AHLUL BAIT bag 2

” Hendaklah kalian mencintai Allah karena Dia memelihara
kalian dengan ni’mat-ni’matNya. Dan cintailah aku de-
mi cintamu kepada Allah. Dan cintailah akhli rumahku
demi cintamu kepadaku. ”
(H.R. At Tirmidzi, Al Hakim dari ibnu Abbas)

Ketika Hijrah, Rasulullah berjalan bersama Abu Bakar r.a, berdua dalam pengejaran pembunuh bayaran kaum Quraish. Allah menyelamatkan keduanya di gua Tsur. Ketika malam tiba, Abu Bakar merobek pakaiannya untuk alas tidur Rasulullah. Maka Rasulullah tertidur dengan pulas dalam pangkuan abu bakar. Meski terasa pe- gal tak digerakkan juga badannya, khawatir mengganggu tidur Rasulullah. Sampai kala jengking menyengat kakinya. Sengatannya demikian perih dan mengucurkan darah segar pada kaki Abu Bakar, namun tak juga digerakan badannya, sampai akhirnya Abu Bakar yang kokoh, tegar, dan gagah mengucurkan air mata karena perihnya luka.

Rasulullah terbangun karena hangat air mata Abu Bakar menetes dan membasahi badan beliau. Terkejutlah beliau manakala melihat kaki yang terluka disengat kala jengking. Dengan izin Allah akhirnya luka itu sembuh setelah diobati Rasulullah.

Seorang yang beriman sejak memproklamirkan bahwa tiada ilah (‘yang dicintai’) selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, maka rasa cinta kepada Allah mengambil bentuk awal berupa rasa cinta kepada Rasulullah. Mahabbaturrasul (cinta kepada rasul) ini berujud “sami’na wa atha’ana” (dengar dan taat) pada perintah rasul, berendah hati, mendahulukan, melindungi, dan kasih-sayang kepada beliau. dan mencintai ahlul baitnya.

Generasi terbaik ummat ini mencontohkan betapa mahabbaturrasul bukan hanya terbatas pada salam dan salawat, namun juga mem-bentengi Rasulullah dari mara bahaya dalam banyak peperangan, tampil membela islam dari hinaan orang-orang yang suka menghina serta celaan dari orang-orang yang suka mencela. Bagi mereka mencintai Rasul bukan lagi sebuah perintah, tapi sesuatu yang memang telah ada di dalam dada mereka, dalam merah darah mereka, dalam setiap kebersamaan mereka bersama Rasulullah dan mengikuti petunjuk-petunjuknya. Bagi mereka rasa cinta kepada Rasulullah adalah hal yang otomatis setelah mereka mengakui islam dan membaiatnya. Dan ini mewujud dalam pembuktian baik ketika periode
Makkah maupun Madinah.

Mahabbaturrasul muncul dari keikhlasan dan ketulusan syar’i, rasa-sayang yang Allah tumbuhkan, yang tak dapat ditumbuhkan manusia meski dibelanjakan seluruh kekayaan yang meliputi dunia. Rasa sayang yang melebihi rasa sayang terhadap bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang diusahakan, perniagaan yang dikhawatiri kerugiannya, rumah-rumah yang disukai. Bahkan rasa sayang yang melebihi rasa sayang
kepada diri sendiri.

Al Mahabbah, cinta yang seperti itu pun dipinta orang yang dicintai untuk kita berikan kepada kecintaannya, ahlul bait. Orang yang mencinta akan menuruti keinginan orang yang dicintai.
Inilah bukti cinta. Karena cinta tidak cukup dengan dan hanya dengan kata-kata.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Tulisan Terkait:AHLUL BAIT

Wassalam,
abu zahra