Deret Fibonacci

Deret Fibonacci

0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, …

Angka Fibonacci memiliki satu sifat menarik. Jika Anda membagi satu angka dalam deret tersebut dengan angka sebelumnya, akan Anda dapatkan sebuah angka hasil pembagian yang besarnya sangat mendekati satu sama lain. Nyatanya, angka ini bernilai tetap setelah angka ke-13 dalam deret tersebut. Angka ini dikenal sebagai “golden ratio” atau “rasio emas”.

GOLDEN RATIO (RASIO EMAS) = 1,618

233 / 144 = 1,618

377 / 233 = 1,618

610 / 377 = 1,618

987 / 610 = 1,618

1597 / 987 = 1,618

2584 / 1597 = 1,618

Deret Fibonacci
Rasio emas dalam tubuh manusia adalah tanda tanda Kekuasaan Allah
1,618
“siapa yang dapat mengatakan kepadaku angka apa ini”
“1,618?? Owh itu angka PHI” . PHI dengan pelafalan FI. Jangan mencapur adukkan dengan PI, Mahasiswa matematika lebih keren mengucapkan PHI dengan H, daripada hanya sekedar PI.
“Angka PHI ini, satu koma enam satu delapan, merupakan angka penting dalam dunia seni. Mengapa demikian? Ada yang tau”
“Owh,,karena itu angka cantik, lebih cantik dari pada aktris-aktris Hollywood hehe”
“Yap benar, angka PHI ini umumnya dianggap angka paling cantik di dunia”
“PHI diperoleh dari deret Fibonacci sebuah deret yang terkenal bukan hanya jumlah dari angka yang berdekatan sama dengan angka setelahnya, tetapi karena juga hasil bagi dari ngka-angka yang berdekatan memiliki sifat yang mengagumkan mendekati angka 1,618 PHI!!!

Lepas dari asal muasal angka PHI yang tampak mistis, aspek menggelitik akal yang sesungguhnya adalah perannya sebagai dasar balok bangunan dari alam. Tumbuhan , hewan, bahkan manusia memiliki sifat dimensional yang melekat dengan kualitas dengan keakuratan pada rasio PHI dibanding 1

Keberadaan PHI yang tersebar di alam, jelas lebih dari kejadian kebetulan saja, dan begitu pula dengan nenek moyang kita menganggap angka PHI telah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta. Para ilmuwan terdahulu menyebut angka PHI ini dengan proporsioanl Agung

“Tunggu dulu, saya seorang Mahsiswi Jurusan Biologi dan belum pernah menemukan Proporsioanal Agung di alam”
“Tidak pernah?”” Pernah lihat hubungan antara lebah jantan dengan lebah betina dalam kounitas lebah madu?”
“Tentu saja. Lebah betina selalu lebih banyak daripada Lebah jantan”
“Benar. Tahukan anda jika jumlah lebah betina dibagi dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang di dunia ini, Anda akan mendapatkan hasil yang sama, yaitu PHI!!!”
“TIDAK MUNGKINNN!!” teriak Mahasisiwi jurusan Biologi itu

“Mungkin saja. Siapa yang pernah melihat kerang laut spiral?”
“Itu sebauh NAUTILUS” jawan si Mahasiswi lagi
“Sebuah Chepalopoda Molluska yang memompa gas ke dalam kerang berongganya untuk menyeimbangkan kemampuan mengapungnya”
“Yap benar. Dan dapatkan anda menerka berapa rasio setiap diameter sipral ke spiral berikutnya?”
“PHI-kah?” tanya Mahsiswi itu lagi”
“Yap bener. Proporsioanl Agung. Satu koma enam satu delapan dibanding satu”
Mahsiswi Biologi itu tercengang

“Siapa yang tahu Bunga Matahari. Biji Bunga Matahari tumbuh dengan melawan spiral. ANDA dapat menerka berapa rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikutnya”
“PHI?” Semua mahasiswa berkata
“Tepat sekali. Sekarang bunga cemara spiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga, semuanya memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan”.
“Ini mengagumkan!”

“Terus apa hubungannya dengan Seni?”
“Ahaaaaaaaaaaaa. Pertanyaan bagus. Ada yang tahu perkamen lelaki bergambar bugil karya Da Vinci yang terkenal itu?”
“The Vitruvian Man maksudnya?”
“Ya tentu, The Vitruvian Man yang didasarkan pada Marcus Vitruvius, seorang arsitek Roma yang sangat pandai yang memngagumi Proporsi Agung dalam karyanya De Architectura”.
“Tak seoramg pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci tentang struktur agung dalam tubuh manusia. Da Vinci bahkan menggali mayat manusia untuk mengukur struktur proporsi tulang manusia yang tepat. Dialah orang pertama yang memperlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari balok-balok bangunanyang rasio proporsionalnya selalu dama dengan PHI!!”
“Nggak percaya?”. Cobalah jika sedang mandi bawalah pita pengukur”
“Ukurlah dari puncak kepala anda ke lantai, kemudia bagi dengan jarak pusar ke lantai. Terka angka berpa yang di dapat?”
“PHI?” seru mahasiswa
“Ya tentu saja PHI. Mau contoh lain?”
“Coba ukur jarak dari bahu anda ke ujung jari anda, kemudian bagi jarak dari siku ke ujung jari anda”
“PHI lagi. Yang lain”
“Paha ke lantai dibagi lutut ke lantai”
“Ruas jari, jemari kaki, divisi tulang belakang semuanya adalah Proporsi Agung. PHI, PHI, PHI lagi. Kawan-kawan ternyata kita memang sudah di design untuk menunjukkan Kekuasaan Sang Maha Pencipta”

“Dalam dunia modern, angka PHI muncul di dimensi Arsitektur Parthenon Yunani, Piramid-piramid Mesir bahkan di Gedung PBB New York. PHI muncul di organisasi sonata-sonata Mozart, Fifth Symphoni karya Beethoven. PHI juga digunakan oleh Stradivarius untuk menghitung penempatan yang tepat untuk lubang F dalam konstruksi biola-biolanya yang kesohor itu.

Sebagi seorang muslim yang percaya Bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta, maka PHI-PHI dalam dunia ini bukanlah suatu kebetulan>>>

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk, 67: 3-4)

… Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At Thalaaq, 65: 3)

… Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (QS. Ar Ra’d, 13: 8)

Sumber : Novel Da Vinci karya Dan Brown dan Artikel Harun Yahya.

2 Comments

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe