Istighfar

Urgensi Istighfar
Terkadang kata “istighfar” disebut sendirian, tapi terkadang pula ia disebut secara bersambungan dengan kata “taubat”. Kata istighfar bila ia disebut sendirian, ia mengandung makna taubat.

Namun bila disebut secara bersamaan dalam satu ayat, maka istighfar bermakna “meminta pengampunan/ penjagaan dari kesalahan-kesalahannya yang telah lampau”.

Sedangkan kata taubat berarti “Kembali kejalan Allah dan minta dijaga dari kesalahan-kesalahan yang akan datang”. Firman Allah S.W.T : “Dan beristighfarlah kepada Rabbmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih”.( Madarijus Salikin : 1/335 ).

Seberapa jauh urgensi istighfar dalam kehidupan, dapat terlihat dari seberapa besar perhatian Rasulullah S.a.w terhadap masalah ini. Adalah beliau S.a.w manusia yang makshum ( terjaga dari dosa ), meski demikian beliau tetap akrab dengan kalimat istighfar.

Ibnu Umar r.a pernah memberi kesaksian bahwa beliau mendengar Rasulullah S.a.w dalam suatu majlis membaca kalimat ( yang artinya ); “Saya memohon ampun kepada Allah yang tidak ada sembahan selain Dia. Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya sebanyak seratus kali.” ( H.R.Nasa`i,Ibnu Hajar berkata:”sanadnya baik” ).

KITA HARI INI. Kalau para sahabat yang kondisinya jauh dari polusi kemaksiatan dan hari-harinya senantiasa dipenuhi dengan amal kebajikan saja tetap tanggap, serius dan kontinyu dengan istighfar, maka bagaimanakah dengan kita hari ini ?

Hari ini kita, kalau boleh dikatakan adalah orang-orang yang melalaikan istighfar. Padahal kalau melihat kondisi yang ada selayaknyalah kita lebih banyak membutuhkan istighfar, sebab tensi kemaksiatan hari ini sangat jauh berlipat ketimbang zaman para sahabat.

Bukankah berbohong, ghibah, mengurangi timbangan, zina dan segudang dosa-dosa besar sudah menjadi barang biasa bagi masyarakat kita ? Dan ironisnya dosa-dosa itu kita anggap sebagai angin lalu seakan tidak membahayakan kita.

Maka sudah saatnyalah kita merenung ulang terhadap kiri kita, sudahkah ada dalam diri kita perasaan perlu terhadap istighfar sehingga secara otomatis kalimat kalimat-kalimat istighfar itu sering mengalir dari mulut dan hati kita.

Cukupkah dengan Istighfar saja?
Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa itu dikategorikan dalam dua jenis, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Dosa kecil akan hapus bila kita berucap istighfar dan berbuat kebajikan. Adapun jika yang kita lakukan termasuk dalam kategori dosa besar, maka ucapan istighfar tanpa disertai dengan rasa penyesalan dan upaya melepaskan diri dari kemaksiatan adalah gurauan belaka.Padahal ulama telah memberitahukan bahwa taubat itu baru bernilai jika telah memenuhi beberapa syarat, yaitu;

1. Segera menghentikan kemaksiatan yang dikerjakannya.
2. Menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukannya. Biasanya ditandai dengan airmata penyesalan.
3. Berniat sungguh-sungguh untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya tersebut.
4. Jika dosanya berkaitan dengan hak-hak adami maka ia harus mengembalikan hak orang yang telah didholiminya. ( Riyadhus sholihin:25 )

Tanpa itu semua maka taubat kita baru sebatas omongan belaka, tanpa bukti. Wallahu a`lam.