Kisah Mahabharata 1 : Raja Dushmanta Bertemu Dewi Syakuntala

Eennggg….iinnggg….eennggg…. 😛

Pada suatu hari, katakan saja begitu, Raja Dushmanta (Raja Dush manggilnya :smile:) pergi berburu ke hutan dengan beberapa orang pengawal kepercayaannya. Dengan bersenjata dan perbekalan lengkap, tibalah mereka di hutan yang sangat lebat dengan pohon-pohon besar, tanah yang subur dan pemandangan yang indah.

Setelah masuk ke hutan mereka banyak menemui berbagai macam hewan besar dan buas-buas, tapi Raja kali ini hanya fokus berburu gajah. Kenapa hanya gajah? Ya anggap saja hari itu kalau membunuh atau melukai hewan selain gajah maka raja akan apes atau kena karma kalau istilah jaman tablet mah 😛

Setelah dirasa mendapatkan cukup banyak gajah, Raja memutuskan dan menyuruh karyawannya untuk berhenti berburu dan istirahat. Lumayanlah kata Raja. Tapi naas, ketika sang Raja Dush beserta pengawal-pengawalnya sedang asyik menikmati perbekalan, tiba-tiba gajah-gajah yang pada terluka pada berdiri dan mengamuk menyerang raja dan para pengawalnya. Anggap saja banyak pengawal yang mati diinjak-injak dan kena gading nya gajah.

Raja Dush yang sakti dan beberapa pengawalnya yang mempunyai ilmu kedigdayaan bisa meyelamatkan diri, dengan perasaan sedih raja memutuskan untuk pulang (udeh kagak mood berburu). Tapi sayang berhubung Raja dan pengawalnya masuk ke hutan terlalu dalam, mereka tersesat dan seharian mencari-cari jalan keluar. Nah, akhirnya setelah dua hari dua malam tersesat di hutan, pada suatu siang yang cerah Raja Dush beserta para pengawalnya yang masih tersisa bertemu dengan para penduduk di pinggir hutan yang lagi bercocok tanam.

Alkisah, setelah ngobrol sana sini dengan penduduk setempat, para penduduk merekomedasikan sang raja untuk menemui seorng resi yang sakti, termasyur dan petapa hebat, Resi Kanwa namanya, seorang Resi keturunan Kesyapa. Kesyapa itu apa?

Tempat pertapaan Resi Kanwa ini gak terlalu masuk ke dalam hutan, biasa lah kalau jaman wayang orang bertapa tentu di dalam hutan, atau di dalam gua, kalau di dalam kamar gak mungkin kan. Dengan berbekal keterangan penduduk, akhirnya Raja dan pengawalnya tibalah di luaran pertapaan Resi Kanwa. Pertapaan itu ane gambarkan kira-kira begini, terletak di tepi sungai yang airnya jernih, dikelilingi tumbuhan buah-buahan yang sedang berbuah ranum yang menggiurkan, di jalan setapak menuju pertapaannya terdapat banyak bunga-bunga beraneka ragam dan warna yang wangi sepanjang hari.

Sang Raja memerintahkan para pengawlnya untuk menunggu di luar, sedang Raja Dush memutuskan untuk masuk sendirian. Adat istiadat jaman wayang emang gitu, tidak diperkenankan untuk menemui seorang resi secara rombongan, emang kondangan….

Sesampainya di dalam pertapaan, sang Raja heran karena hanya menemukan soerang putri cantik jelita, “Ah, ane salah masuk kayaknya” kata raja dalam hati. Tapi kata penduduk di sekitar sini hanya ada satu pertapaan yang ciri-cirinya sama persis dengan pertapaan yang ditemui raja sekarang ini, yaitu pertapaan Resi Kanwa. “Ah, masa ane salah masuk sih? Tempat ini persis sama yang dikatakan oleh para penduduk, tapi herannya para penduduk tidak menceritakan kalau Resi mempunyai seorang putri. Lagian mana ada Resi mempunya seorang anak? Resi Kawin? What apa kata dunia perwayangan?” kata raja dalam hati

Seorang resi di sumpah untuk tidak mengumbar nafsu birahinya. Untuk tidak merit (lagian ngapain sih bikin aturan kayak gini? diciptakan manusia untuk saling berpasangan dan mempunyai keturunan, ngapain nolak nikah??)

Dengan hati yang ragu Raja memutuskan untuk mendekati sang putri, alangkah terkejutnya raja ketika tau bahwa putri ini cantik banget, anggun dengan baju pertapanya, wangi harum badannya, elok parasnya, dan keibuan tatapan matanya.

“Selamat datang paduka, ada angin apa gerangan seorang raja masuk ke pertapaan? Apa yang dapat hamba bantu paduka?” sambut sang putri ketika raja mendekatinya

“Maaf putri cantik jelita, siapakah gerangan engkau ini? Kemana Resi Kanwa yang sakti dan termasyur itu?” tanya sang raja

“Maaf tuan, hamba adalah Syakuntala, putri Resi Kanwa. Resi sedang mencari ramuan dan buah-buahan di luar, kalau paduka mau menunggu silahkan, biasanya empu resi sebentar lagi balik” jawab Dewi Syakuntala

“Resi punya anak? Bagimana mungkin seorng RESI punya anak? Resi yang sangat dihormati di jagad ini telah mengumbar nafsu birahinya? Jika orang biasa berniat melaksanakan dharma, bisa saja dia lalai. Tetapi, seorang resi yang suci telah bersumpah tidak akan membiarkan gejolak nafsu menjerumuskannya. Wahai putri cantik, bagaimana mungkin Tuan ini anak Resi Kanwa? Maafkan aku karena ragu. Jawablah dan hapuslah keraguanku ini.” tanya sang raja tercengang.

Syakuntala berkata, “Baiklah, akan hamba ceritakan asal-usul hamba sebagaimana yang Bapa Resi ceritakan kepada seorang pertapa pengembara yang datang menghadap dan bertanya tentang diri hamba. Begini ceritanya…
‘Adalah seorang pria sakti bernama Wiswamitra yang tidak puas akan kesaktiannya. Untuk membuat dirinya semakin sakti, dia terus-menerus bertapa dengan khusyuk.Begitu kuat tapanya, hingga Batara Indra ketakutan. Batara Indra tahu, jika tapa Wiswamitra berhasil, pria itu akan mampu menggulingkannya dari takhtanya di Indraloka atau kahyangan. Untuk menggagalkan tapa Wismamitra, Batara Indra memanggil Dewi Menaka dan diperintahkannya bidadari itu untuk menggodanya.

‘Dewi Menaka berkata, “Paduka Batara, Wiswamitra adalah seorang suci yang sangat sakti dan berkuasa. Ia juga sangat gampang marah. Kekuatan, ketekunan dan dendam jiwanya yang teramat keras sudah membuat Paduka Batara khawatir. Apalagi hamba, hamba takut menghadapinya. Dialah yang membuat Wasistha menderita kesedihan yang mendalam karena melihat anak-anaknya mati sebelum dewasa. Dia dilahirkan sebagai kesatria, tetapi karena kebajikan dharma-nya dan kesaktiannya yang mendalam dia menjadi brahmana…. Dia mampu membakar tiga dunia, neraka, bumi, dan kahyangan
dengan kesaktiannya, ia juga mampu membuat gempa bumi. Karena kesaktiannya itu, ya Paduka Batara, bantulah
hamba waktu hamba menggoda dia. Hamba mohon agar Maruta, sang Dewa Angin menyebarkan wewangian dari pohon-pohon hutan. Waktu hamba bermain-main di dekatnya nanti, hamba mohon Dewa Angin menerbangkan pakaian hamba dan Manamatha sang Dewa Cinta sebaiknya juga membantu hamba.”

‘Setelah berkata demikian, pergilah Dewi Menaka ke tempat Wiswamitra bertapa. Sesampainya di depan pertapa sakti itu, ia memberi salam hormat. Kemudian, mulailah dia merayu. Ketika itu berhembuslah angin kencang, melambaikan ujung bawah pakaiannya hingga betisnyayang indah tampak sekilas. Tapi, angin bertiup semakin kencang dan akhirnya menerbangkan pakaiannya. Tanpa busana, Dewi Menaka pura-pura malu dan hendak mengejar pakaiannya. Tak kuasa mengalihkan pandangannya, Wiswamitra terpesona oleh keindahan tubuh Dewi Menaka. Ia tergoda, tak mampu melanjutkan tapanya. Gagal. Wiswamitra menghentikan tapanya, memilih sang Dewi, dan mereka hidup bersama.

‘Beberapa waktu kemudian, Dewi Menaka mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, ia pergi ke tepi Sungai Malini di lembah Gunung Himalaya yang indah. Di sana ia melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu ditinggalkannya di tepi sungai lalu ia terbang kembali ke kahyangan.

‘Bayi itu dipungut dan diangkat anak oleh Resi Kanwa. Karena ketika ditemukan dilindungi oleh burung-burung syakuntala, maka bayi itu diberi nama Syakuntala dan anak itu menganggap Resi Kanwa sebagai ayahnya.’

“Itulah cerita yang pernah hamba dengar dari Resi Kanwa, Paduka Raja,” kata Syakuntala mengakhiri
ceritanya.

Bersambung guys…..

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe
%d blogger menyukai ini: