Kisah Mahabharata 2: Dewi Syakuntala ke Istana Raja Dushmanta

sambungan dari ini:
Kisah Mahabharata 1 : Raja Dushmanta Bertemu Dewi Syakuntala

“Menikahlah denganku wahai putri jelita Dewi Syakuntala. Seluruh kerajaan akan menjadi milikmu. Kita akan melakukan upacara pernikahan gandharwa sekarang” kata Raja Syakuntala ketika Dewi Syakuntala mengakhiri ceritanya.

Pernikahan gandharwa kalau jaman sekarang mirip nikah siri 🙂

Dushmanta berkata lagi, “Wahai putri nan jelita dan sempurna, aku ingin engkau menjadi pendampingku. Menurut hukum penciptaan, seseorang adalah teman bagi dirinya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri; dia sendirilah yang menentukan segala sesuatu tentang dirinya sendiri. Menurut hukum itu, engkau dapat merestui dirimu sendiri. Dan ketahuilah, di jagad ini ada delapan macam perkawinan. Manu, sang manusia pertama, merumuskan delapan jenis perkawinan, lengkap dengan urutan upacaranya. Cara gandharwa adalah yang paling sesuai dengan sifat kesatria. Janganlah engkau takut, jangan pula merasa bimbang dan ragu. Wahai putri tercantik, hatiku penuh cinta kepadamu, semoga engkau pun demikian. Kabulkanlah permintaanku dan kita menikah sekarang juga.”

ini si Raja kebelet amat, pengennya buru-buru nikah tanpa saksi, padahal Resi Kanwa sebagai ayah Dewi Syakuntala bentar lagi juga dateng. Dia kan cuma nyari buah-buahan dan ramuan obat, bukan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis 🙂

Dewi Syakuntala berkata,” Wahai baginda Raja Puru, jika itu memang kehendak paduka, sesungguhnya hamba juga punya hak untuk memutuskan segala sesuatu tentang diri hamba. Hamba mau menikah dengan Paduka asal dengan syarat, jika kelak aku melahirkan anak laki-laki dari perkawinan kita ini, maka anak laki-laki ini akan mewarisi tahta kerajaan paduka. Berjanjilah paduka bahwa paduka menepati syarat-syarat yang hamba ajukan. Wahai paduka Raja Dushmanta, jika paduka raja menerima syarat ini, haba siap menikah sekarang ini juga”

Puru adalah kerajaan besar cikal bakal bharata, nah dari sini entar muculah Pandawa dan Kurawa.

Tanpa berpikir panjang, Raja Dushmanta mengiyakan dan mau memenuhi syarat yang diajukan oleh Dewi Syakuntala.”Baiklah akan kupenuhi syarat-syarat yang engkau ajukan, bahkan ane juga bermaksud memboyong engkau putri jelita untuk tinggal di istana. Memang sepantasnya lah engkau tinggal di istana sebagai seorang permaisuri”

Singkat cerita, Raja Dushmanta dan Dewi Syakuntala menikah secara gandharwa, yaitu upacara mengelilingi api sambil mengucapkan mantra-mantra, kayak di film-film india itu loh 🙂

Dalam keasyikan suasana nikahnya, si Raja Dushmanta berulang kali mengucapkan janji bahwa Dewi Syakuntala akan dijemput utusan yang megah, dan disambut di istana dengan suka cita, Rakyat Puru akan mengelu-elukannya sebagai permaisuri agung.

Setelah puas berasyik masyuk dengan Syakuntala, Raja Dushmanta kembali ke istana bersama para pengawalnya. Selang beberapa lama kemudian datanglah Resi Kanwa (Ayah nya si Syakuntala). Resi Kanwa heran melihat keadaan pertapaannya yang tidak serapi biasanya, dan lebih heran lagi ketika medapati wajah putri angkatnya si Syakuntala sembab, takut, malu, dan tidak menyambut kedatangannya.

Dengan kekuatan batinnya (Resi Kanwa ini sakti), Resi Kanwa tau apa yang barusan terjadi. “Anakku sayang, apa yang telah kaulakukan secara diam-diam dan sembunyi- sembunyi tanpa menunggu restuku? Aku tahu, engkau sudah menikah dengan seorang lelaki. Tak usah kau cemas, pernikahan itu takkan menghancurkan kebajikanmu. Sesungguhnya, upacara perkawinan gandharwa antara seorang wanita yang bersedia dengan seorang lakilaki yang mencintainya adalah salah satu upacara terbaik di antara cara-cara kesatria. Dushmanta seorang lelaki yang baik dan berbudi tinggi. Engkau, anakku Syakuntala, telah menerima dia sebagai suamimu. Anak laki-laki yang akan kaulahirkan, akan menjadi pemuda yang kuat dan ternama di seluruh dunia. Ia akan menguasai lautan dan dikaruniai kesaktian yang tak terkalahkan. Dia akan
menjadi raja diraja dan punya berlaksa-laksa balatentara perkasa.”

Dewi Syakuntala sangat terharu mendengar kata-kata Ayah angkatnya, segera dibasuhnya kaki sang Resi sebagai tanda penghormatan dan bersimpuh memohon doa restu.

“Demi kau anakku sayang, aku merestui semua ini, toh ini semua juga sudah terjadi. Untukmu sendiri mintalah hadiah yang kau inginkan” kata Resi Kanwa

Syakuntala berkata,”aku ingin agar keturunanku dengan Raja Dushmanta kekal sampai ke akhir jaman. Karena itu, aku memohon hadiah restu dari Resi Kanwa agar raja-raja Paurawa, yaitu raja-raja keturunan wangsa Puru tidak akan pernah kehilangan kerajaannya dan senantiasa ternama di seluruh dunia”.

Singkat cerita, tibalah saatnya Dewi Syakuntala melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Waktu berumur tiga tahun, anak itu sudah kelihatan tampan, agung, perwira, tangkas dan terampil serta pandai dalam berbagai ilmu pengetahuan. Namanya juga yang ngasuh seorang Resi yang termasyur, pasti lah cucunya layaknya seorang pendekar 🙂

Hari hari berlalu, tapi Raja Syakuntala tidak juga mengutus utusan kepada Dewi Syakuntala yang dia janjikaan ketika pernikahan gandharwa dulu. Biasalah laki-laki emang gitu, gak di dunia wayang gak didunia nyata, kalau ada maunya janji aja yang di gedein, setelah dapat lupa sama janji-janjinya, sama deh kayak pejabat, kalau lagi kampanye wah janji ini janji itu, akan begini akan begitu, tapi setelah dapat kursi mah boro-boro menepati janji, sama rakyatnya saja lupa.

Resi Kanwa tau benar apa yang dirasakan putri angkatny. Katanya, “Anakku, wanita yang sudah menikah tak boleh terus-menerus tinggal di rumah orangtuanya karena ia takkan dapat
menjalankan kewajibannya terhadap suaminya dan kebajikannya akan rusak.”

Setelah mohon diri dan mendapat restu Resi Kanwa, berangkatlah Syakuntala dan Sarwadamana (anak dari Dewi Syakuntala dan Raja Dushmanta) diiringkan beberapa resi sebagai pengawal. Berhari-hari mereka berjalan menembus hutan, menyusuri sungai, dan menyeberangi padang rumput luas sebelum akhirnya tiba di gerbang istana Hastinapura. Nama istana raja Dushmanta adalah Hatinapura

Dengan hati berdebar-debar, Syakuntala dan anaknya memasuki gerbang istana dan minta dibawa menghadap
sang Raja. Setelah mengucapkan salam hormat sepatutnya, ia berkata kepada Raja, “Inilah hamba Tuanku,
Syakuntala, istri Paduka dari pertapaan Resi Kanwa. Lihatlah, wahai Paduka, anak yang tampan ini. Dia adalah
putra Paduka yang selama ini hamba asuh di pertapaan. Wahai Raja termulia di dunia, penuhilah janji Paduka dan
nobatkanlah dia menjadi putra mahkota. Ingatkah Paduka akan janji yang Tuan ucapkan waktu kita menjalankan
upacara perkawinan gandharwa di pertapaan Resi Kanwa dahulu?”

Mendengar perkataan Syakuntala, Raja Dushmanta ingat semua yang telah terjadi. Tetapi, ia malu. Di hadapan
para perwira dan menteri kerajaan, ia malu mengakui perkawinannya dengan gadis pertapa yang tak jelas asal keturunannya. Untuk menutupi rasa malunya, ia berkata dengan marah, “Berani benar engkau bicara seperti itu!
Aku tak kenal kau! Aku tak pernah bertemu kau! Siapakah engkau, hai perempuan jahanam yang menyamar menjadi
pertapa suci? Aku tidak punya hubungan apa pun denganmu, baik karena dharma, kama maupun artha.*
Enyahlah engkau dari sini dan jangan pernah kembali!”

B E R S A M B U N G………………………