Kisah Mahabharata 3 : Kemarahan Dewi Syakuntala kepada Raja Dushmanta di Istana Hastinapura

Sambungan dari Kisah Mahabharata 2: Dewi Syakuntala ke Istana Raja Dushmanta >

Catatan:
Dharma, kama maupun artha adalah Ketiga bentuk hubungan yang dimaksud adalah hubungan tugas kewajiban
hidup, hubungan seksual dan hubungan kekayaan hartabenda.

Engg..Ingg..Engg

Di kisah ke dua diceritakan bahwa Raja Dushmanta menolak mengakui anaknya dari hubungan dengan Dewi Syakuntala. Wanita mana yang tidak sakit hati, kecewa, marah, malu, direndahkan harga dirinya ketika suaminya menolak mengakui dia sebagai istrinya maupun anaknya. Udah mah dulu waktu nikahnya si Raja ini ngebet banget, penuh dengan rayuan janji-janji palsu. Bahkan Resi Kanwa sang ayah angkat dari Dewi Syakuntala pun tidak menjadi saksi pernikahannya.

“Dengarlah, wahai Tuanku. Hanya orang rendah budi yang dengan mudah berdusta dan ingkar janji. Hamba yakin, dalam hati Paduka pasti mengakui kebenaran kata-kata hamba. Tetapi, mengapa Paduka memilih berdusta, berkata tak pernah mengenal hamba, tak pernah menikahi hamba? Hati nurani adalah saksi atas kebenaran dan kepalsuan.” kata Dewi Syakuntala dengan menahan marah.

“Jika Engkau mengatakan yang sebenarnya tidak akan turun derajatmu, Orang yang mengingkari kenyataan dirinya berarti mencuri atau merampok dirinya sendiri. Kaupikir, kau dapat mengatakan tidak tahu atas perbuatanmu sendiri. Tidakkah kau tahu bahwa Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu bersemayam di hatimu? Ia mengetahui dosamu, dan kau telah berbuat dosa di hadapanNya”

“Seorang pendosa mungkin berpikir bahwa tak seorang pun tahu akan dosanya, tetapi sesungguhnya segala perbuatannya
dilihat oleh Dia yang bersemayam di hati setiap manusia. Orang yang menghina dirinya sendiri dengan berdusta, tidak akan direstui olehNya, bahkan jiwanya sendiri pun tidak akan merestui”

“Aku adalah istri yang mengabdi pada suami. Dengan kemauanku sendiri aku datang kemari untuk menemui kau, suamiku. Itu benar. Tetapi janganlah karena alasan itu aku kauperlakukan hina. Aku adalah istrimu, istri raja, dan karenanya berhak mendapat perlakuan yang terhormat. Apakah engkau tidak bersedia menerimaku karena aku datang atas kemauanku sendiri? Di hadapan begitu banyak orang, di istanamu yang megah mulia, mengapa kauperlakukan aku seperti perempuan biasa? Bukankah engkau yang memintaku menjadi permaisurimu? Lupakah engkau? Tidakkah engkau mendengar kata-kataku?”

Raja Dush pura-pura tidak mendengar kata-kata Dewi Syakuntala, bahkan membuang muka.

“Seorang suami yang merasuk ke dalam tubuh istrinya akan keluar dalam wujud anak. Begitulah yang selayaknya terjadi. Karena itu seorang istri disebut jaya, yang berarti‘dari mana seseorang dilahirkan.“Istri yang sejati pandai mengatur rumah tangga. Istri yang sejati mengabdikan seluruh jiwanya kepada suaminya. Ia bagaikan belahan jiwa suaminya dan menjadi teman utama di antara semua teman suaminya. Istri adalah dasar agama, keberuntungan, dan hasrat-keinginan. Istri yang sholehah adalah kebahagiaan hidup abadi”.

“Ia yang mempunyai istri dapat melaksanakan hidup berkeluarga dan mempunyai teman di waktu suka dan duka. Istri berperan sebagai makmum yang setia mengiringi suaminya, sebagai ibu di kala sakit dan duka. Bagi seorang pengembara, istri adalah penghibur di kala gundah. Ia yang mempunyai istri dipercaya oleh semua orang. Karena itu, istri adalah harta paling berharga yang bisa dimiliki seorang lelaki. Ketika suami meninggalkan dunia ini dan menghadap Yang Maha Kuasa, maka istri adalah tempat bagi berlindung anak-anak yang ditinggalkannya”

“Atas dasar semua itulah, wahai Raja Dushmanta,seorang lelaki menikahi seorang perempuan. Seorang suami menikmati keakraban seorang istri ketika hidup di dunia ini. Telah dikatakan oleh para arif bijaksana bahwa seorang suami pada hakikatnya terlahir sebagai anak lelaki istrinya. Karena itu, istri yang melahirkan anak laki-laki haruslah dianggap sebagai ibu sendiri oleh suaminya. Memandang wajah putranya, seorang lelaki seperti berdiri di depan kaca dan menatap
wajahnya sendiri. Ia akan merasa bahagia ibarat orang suci yang mencapai surga. Laki-laki yang muram karena sedih hatinya atau sakit badannya akan merasa segarkembali di samping istrinya, bagai orang yang kegerahan
mendapat air sejuk untuk membersihkan badan. Adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang ayah waktu anaknya lari ke dalam pelukannya?”

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe