Kisah Mahabharata 6: Lahirnya Dewabrata

Baca ini dulu yah,,, Kisah Mahabharata 5: Sumpah Resi Wasistha

Setelah menyetujui hasil sidang pleno negeri kahyangan (negeri antah brantah hehe), Dewi Gangga ini akhirnya turun ke bumi, dan kebetulan hinggapnya di tepi Sungai Gangga. Sekedar mengingatkan, Dewi Gangga ini turun ke bumi untuk menikah dengan salah satu manusia, nah dari hasil pernikahannya kelak dia akan melahirkan delapan anak laki-laki yang merupakan reinkarnasi dari delapan dewa yang dikutuk oleh Resi Wasistha (baca kisah awalnya di , Kisah Mahabharata 5: Sumpah Resi Wasistha

Kenapa delapan dewa itu reinkarnasi? Mereka mendapat kutukan dari Resi Wasistha, karena telah mencuri sapi kesayangannya 😀 , Coba kalau misalnya mereka melarikan istri sang resi ini, mungkin delapan dewa ini akan dikutuk menjadi kodok atau bahkan batu. Saya heran, dewa kok bisa dikutuk yah? Ah sudahlah namanya juga dunia wayang. Kita ini ya yang hidup dijaman tablet, jangan percaya kutukan, percaya aja sama Allah, percaya sama hukum alam, bahwa kalau kita mengikuti hukum-hukum Allah, Insya Allah kita akan bahagia dunia akhirat.

Wuzzzzzzz, bluggg, jatuhlah Dewi Gangga di tepi Sungai Gangga, Hiks emang buah kelapa kok bunyinya blug?. Cerita wayang ini mungkin terinspirasi oleh turunnya Hawa dari surga kali yak?. Siti Hawa kan begitu, turun ke bumi karena di surga dia telah melanggar perintah Allah, yaitu makan buah Khuldi. Di tepian Sungai Gangga, Dewi Gangga menjelma menjadi seorang wanita cantik, di cerita wayang emang gitu, seingat saya emang tidak ada wanita jelek. Sebut saja Drupadi, Kunthi, Sembadra, Amba, Ambalika, mereka digambarkan sebagai putri-putri yang cantik nan molek.

Dasarnya emang sudah di setting sama Yang Di Atas, tidak lama setelah Dewi Gangga mendarat di tepian sungai, muncullah Raden Sentanu. Raden Sentanu ini adalah seorang raja yang gagah, tampan, termasyur dan ketrurunan dari puru. Puru itu suatu bangsa yang besar, nenek moyang dari kerajaan Hastina, tentu saja nenek moyang dari Pendawa dan Kurawa. Karena Pendawa dan Kurawa itu awalnya emang di kerajaan Hastinapura.

Ceritanya, Raden Sentanu ini lagi berburu gan. Kalau jaman-jaman itu berburu memang suatu hoby dan tradisi yang menantang. Karena dengan berburu, pembentukan otot-otot serta ketangkasan seorang anak laki-laki akan terjaga. Pas lagi haus bingits, Raden Sentanu ini berlari ke sungai untuk minum. Jaman wayang gak ada istilah bawa bekal air mineral kemasan yak, kalau haus gitu langsung aja nyebur di sungai dan minum.

Di tepian sungai itulah Raden Sentanu bertemu dengan Dewi Gangga yang sedang duduk-duduk. Raden Sentanu heran, kok ada ya gadis secantik ini sendirian di tepi sungai, sendirialn lagi!!.

Langsung to the poin aja gan / sis…:D

” wahai gadis cantik, siapakah engkau? mengapa di sungai sendirian?” tanya Raja Sentanu

” Maaf paduka, hamba adalah anak yatim piatu, hamba mengembara dari negeri ke negeri, hamba tidak punya sanak saudara di dunia ini. Hamba di sini untuk mencari air minum paduka”, jawab Dewi Gangga bohong. (Wew bidadari kok bohong)

Raden Sentanu termangu mendengar penuturan Dewi Gangga yang lemah lembut, sopan, dan halus. Di tambah kecantikan dan kemolekan Dewi Gangga, Raden Sentanu tertarik dengan gadis ini.

“Wahai Gadis cantik, maukah engkau ku boyong ke istanaku?” tanya Raden Sentanu.

“Maaf paduka, hamba tidak pantas hidup di negeri paduka yang besar ini. Hamba hanyalah manusia yang tidak diketahui asal usulnya” jawab Dewi Gangga.

Dewi Gangga tidak tahu kalau sebenarnya dia memang akan menjadi permaisuri di Negeri Hastinapura. Yang dia tahu bahwa dia hanya kan turun ke bumi dan akan menjadi seorang istri dengan salah satu laki-laki di muka bumi.

“waahai Dewiku, maukah engkau menjadi istriku? Aku tidak peduli siapa pun engkau. Aku terpesona oleh
kecantikanmu dan jatuh cinta padamu”, kata Raja Santanu kepada Dewi Gangga

Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh cinta, kekayaan, dan kerajaannya —bahkan seluruh hidupnya— kepada gadis jelita itu. Dewi Gangga kaget dengan ucapan Raja Sentanu, dia tidak menyangka kalau Raja Sentanu mudah jatuh cinta dan mengucap janji kepada dirinya. (Ah dasar laki-laki tiap ketemu gadis cantik mudah mengucapkan cinta dan mengobral janji, jangan dicontoh yak plendddd 😀 )

Karena emang sedang menjalani takdir, Dewi Gangga menerima tawaran Raja Sentanu dengan syarat-syarat tertentu. Cerita dikit yak,,,Dewi Gangga ini mendapat mandat dari para penguasa kahyangan, jika ada lelaki yang mengajakmu menikah, maka ajukanlah syarat-syarat. Syarat-syaratnya adalah “Pertama, tidak boleh bertanya siapa sesungguhnya engkau dan dari mana asal-usul engkau. Kedua, apa pun yang engkau lakukan —baik atau buruk, benar atau salah, wajar atau ganjil— suamimu tidak boleh menghalang-halangi. Ketiga, suamimu tidak boleh marah kepada engkau— dengan alasan apa pun. Keempat, suamimu tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat perasaan engkau tidak enak. Jika salah satu ada yang dilanggar maka Engkau berhak untuk meninggalkan suamimu, dan kembali ke kahyangan. Itulah pesan para penguasa kahyangan kepada Dewi Gangga sebelum turun ke bumi.

Mengingat apa yang dipesan oleh bos-bosnya di kahyangan sono, maka setujulah Dewi Gangga untuk menjadi istri Raden Sentanu dan di boyong ke istna Hastinapura.

“Baiklah Paduka, hamba siap menjadi istri paduka, tapi hamba meinta beberapa syarat dan hamba mohon paduka setuju dengan syarat-syarat yang hamba ajukan” jawab Dewi Gangga.

“Aapa syarat yang engkau ajukan dewiku”

“Baiklah Paduka, hamba siap menjadi istri paduka, tapi hamba meinta beberapa syarat dan hamba mohon paduka setuju dengan syarat-syarat yang hamba ajukan” jawab Dewi Gangga.

“Apa syarat yang engkau ajukan dewiku”

“Baiklah paduka, inilah syarat-syarat yang hamba ajukan, “Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak
seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba. Kedua, apa pun yang hamba lakukan —baik atau buruk, benar atau salah, wajar atau ganjil— Paduka tidak boleh menghalang-halangi. Ketiga, Tuanku tidak boleh marah kepada hamba — dengan alasan apa pun. Keempat, Paduka tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat perasaan hamba tidak enak. Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu —walau
hanya satu— hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia dengan syarat-syarat yang hamba ajukan?”

Tanpa pikir panjang Raden Sentanu menyetujui syarat-syarat yang diajukan oleh Dewi Gangga. Hehe laki-laki emang gitu yak, kalau lagi jatuh cintanya selangit, sudah tidak peduli apapun, tidak peduli harta, benda, tahta, kedudukan atau bahkan nyawanya sendiri.

Akhirnya memang Dewi Gangga diboyong ke Istana Hastinapura, akhirnya lagi diadakanlah pesta pernikahan antara Dewi Gangga dengan Raden Sentanu, akhirnya juga Dewi Gangga menjadi permaisuri Raja Sentanu.

Hari hari berlalu, kebahagiaan Raja sentanu menjadi jadi setelah tahu bahwa Dewi Gangga bukan hanya cantik, tapi berbudi pekerti luhur, sopan, dan patuh terhadap sang suami. Akhirnya,,,kok dari tadi akhirnya akhirnya mulu sih, hehe biarin ah, lha terus mau ngetik apa hiks 😀 , akhirnya dengan berlalunya waktu Dewi Gangga mengandung, mengetahui Permaisurinya mengandung, semakin bahagialah Raja Sentanu, karena dia akan mempunyai anak yang akan melengkapi kehidupan istananya. Lebih-lebih jika yang lahir adalah seorang putra, maka dia akan mempunyai seorang putra mahkota, yang kelak akan menggantikan kekuasaannya.

Tibalah saatnya Dewi Gangga akan melahirkan anak pertamanya. Tetapi Dewi Gangga ini tidak ingin acara melahirkannya di istana, dia pamit kepada sang raja untuk melahirkan sang anak di tempat yang sunyi dan menyendiri. Sang Raja heran dengan permintaan ini, tapi karena teringat sumpah dan janjinya kepada Dewi Gangga, dia menyetujui permintaan istrinya.

Pergilah Dewi Gangga ke tepian sungai Gangga, tempat yang dia rasa aman dan nyaman untuk melahirkan. Sampai di tepian Sungai Gangga, dicarilah tempat yang nyaman dan aman untuk melahirkan. Lewat beberapa waktu, tibalah dia melahirkan seorang anak laki-laki yang gagah, bersih, dan berwibawa. Tapi karena emang dasarnya lagi menjalani takdir, bayi itu bukannya dibawa pulang kes istana, tapi malah dibuangnya ke sungai. wow!!

Serasa tidak punya dosa, setelah membuang bayinya ke sungai, dan membersihkan diri, Dewi Gangga ini kembali ke istana Hastinapura dengan sikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Melihat permaisurinya kembali tanpa membawa seorang anak, dan perutnya dalam keadaan normal (tidak kelihatan mengandung lagi), Raja Sentanu heran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan permaisurinya, kemana bayi itu, kemana anaknya, kenapa permaisurinya tidak merasa bersalah dan tenang-tenang aja?

Namun, Raja Sentanu tidak bisa berbuat apa-apa, dia teringat akan janjinya, teringat akan empat syarat yang diajukan oleh Dewi Gangga sebelum menikahi sang Dewi dulu. Ya sudahlah, akhirnya Sang Raja memang tidak melakukan hal-hal yang akan menyinggung dan bertanya-tanya lagi. Hiks, pasangan yang sama-sama aneh.

Waktu berlalu, bertahun tahun berlalu, kejadian seperti itu berulang kali sampai tujuh kali. Setiap Dewi Gangga mengandung dan melahirkan dibuangnya bayi-bayi itu ke Sungai Gangga. Raja Sentanu juga gitu-gitu aja, tidak berani melanggar sumpah dan janji. Ini Raja emang takut bangets kehilangan sang istri, takut ditinggalkan istrinya, duh kasihannn,,,

Sampai akhirnya, tibalah kelahiran sang permaisuri yang ke delapan, beuhhh. Seperti biasa sang permaisuri pamit kepada sang raja untuk menyendiri dan tidak mau ditemani oleh siapapun, termasuk sang raja. Kali ini sang raja sudah tidak tahan dan diam-diam membuntuti sang permaisuri, sang raja penasaran apa yang sebenarnya yang terjadi dengan permaisurinya, apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anaknya.

Setelah sekian lama mengintai, akhirnya,,,

Kagetlah Raja Sentanu mengetahui bahwa anaknya akan dibuang ke sungai oleh permaisurinya.

“Tahan!Hentikan! Apa yang kau lakukan!?? Ini sangat kejam, tidak berperikemanusiaan! Rupa-rupanya kau telah membunuh bayi-bayimu sendiri, kau telah membunuh anak-anakmu sendiri!!

Kagetlah Dewi Gangga ternyata dia telah diikuti oleh suaminya.

“Wahai sang raja, kau telah melanggar sumpahmu, kau telah melanggar janjimu. Wahai, Raja yang Agung! Kau telah melanggar janjimu padaku karena hati dan perasaanmu telah tertambat pada bayi ini. Itu artinya, engkau tidak menginginkan aku lagi”.

“Baiklah, aku tidak akan membunuh bayi ini! Tetapi sebelum aku pergi dan sebelum engkau menyimpulkan sesuatu tentang aku, dengarkanlah ceritaku ini. Aku adalah bidadari yang dipaksa memainkan lakon duka ini karena sumpah Resi Wasistha. Sesungguhnya aku ini Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia”.

“Resi Wasistha telah menimpakan kutuk-pastu kepada delapan wasu yang akan terpaksa lahir ke bumi ini. Para wasu itu kemudian memohon agar aku bersedia menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, Raja Santanu, aku melahirkan mereka ke dunia, sebagai anak-anakmu”.

“Sebagai balas budi karena telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang mulia tinggi di alam
baka. Sekarang, aku akan membawa bayi ini dan mengasuhnya sampai dia cukup besar dan tiba waktunya untuk kuserahkan kembali kepadamu. Anak ini akan menjadi lambang dan kenangan atas cinta kita berdua.”

Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayinya. Kelak, bayi itu dikenal dengan nama Bhisma dan menjadi kesatria sakti yang termasyhur.

Sang raja sedih mengetahui apa yang telaj terjadi. Nasi telah menjadi bubur. Sang Dewi menghilang bersama bayinya yang kedelapan dan bertahun tahun tidak pernah memberi kabar dan muncul kembali. Sejak itu, sang Raja meninggalkan kesenangan duniawi dan memerintah kerajaannya dengan lebih bijaksana, adil dan meninggalkan kesenangan duniawi.

Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi Sungai Gangga. Semenjak peristiwa itu, Raja Sentanu sudah tidak pernah ke Sungai Ganggan. Entah karena kangen atau gimana, tiba-tiba saja Raja Sentanu ingin pergi ke tepian Sungai Gangga. Setibanya di tepi Sungai Gangga, Ia hanya melamun, mengenangkan saat-saat pertemuannya dengan Dewi Gangga. Sungguh kenangan yang sangat indah namun meninggalkan kepedihan di hati.

Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki yang tampan, gagah, tangkas yang dikelilingi aura kemegahan dan keagungan, anak kecil yang sedang tumbuh menjadi remaja. Anak itu sedang bermain panah. Berkali-kali ia melepas anak panah-anak panah dari busurnya, mengarahkannya ke seberang Sungai Gangga.

Tak terlihat siapa-siapa di dekatnya. Begitu pula di seberang sungai. Raja Santanu takjub dan terharu melihat ketampanan dan ketangkasan anak itu. Raja mendekati anak itu, ingin bertanya padanya. Tetapi… tiba-tiba dia melihat Dewi Gangga muncul di hadapannya.

Dewi Gangga berkata dengan lemah lembut, “Wahai, Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Dia kunamai Dewabrata dan kuasuh hingga mahir berolah senjata, menguasai ilmu perang dan memiliki kesaktian yang setara dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda dan falsafah Wedanta dari Resi Wasistha. Kecuali itu, ia juga menguasai kesenian, kebudayaan dan ilmu gaib Sanjiwini yang dikuasai Sukra. Sambutlah anak ini. Terimalah dan asuhlah dalam istanamu. Kelak dia akan menjadi kesatria besar, ahli siasat perang dan senapati agung.”

Nah, jadi tau kan sejarah lahirnya Dewabrata. Kelak dia ini adalah Bhisma, seorang paman Pendawa dan Kurawa yang sangat sakti, terkenal dan disegani.