Kisah Mahabharata 5: Sumpah Resi Wasistha

Baca ini dulu Kisah Mahabharata 4 : Akhir Pertemuan Raja Dushmanta dan Dewi Syakuntala

Pada suatu hari yang cerah, #ciehhh, ada delapan penguasa kahyangan (anggap saja begitu), sedang walking-walking bersama pasangannya ke bumi. Tibalah mereka di suatu pegunungan yang indah dan sejuk. Di sisi pegunungan itu ada pertapaan seorang Resi sakti, yaitu Resi Wasistha. Beberapa saat mereka celingak-celinguk, tapi sang Resi tidak ada. Nah di halaman atau pelataran Sang Resi itu ada seekor sapi yang indah, elok, putih, bersih, menawan, sehat dan nggemesin. Namanya Nandini, ya nama sapi itu Nandini. Namanya keren yak, kayak nama manusia perkotaan.

Sudah kodratnya wanita mungkin, mereka gampang tertarik dengan dunia hehe, istri-istri para penguasa kahyangan itu meminta suami-suaminya untuk menangkap Nandini.Tapi para ikatan suami-suami ini menolak.

“Apa gunanya kita menangkap sapi itu? Sapi itu milik seorang Resi yang sakti, dengan kesaktian Sang Resi ini, barang siapa yang bisa meminum susu sapi itu akan bisa hidup abadi. Apa gunanya kita menangkap sapi itu, toh kita para penguasa-pengauasa kahyangan sudah ditakdirkan hidup abadi.”

“Mbok yao kita itu jangan serakah, biarkan sapi itu merumput dan hidup tenang. Lagi pula kalau Resi Wasistha tau sapinya hilang kita bakal celaka duabelas. Kita akan kena kutuk dan murak sang Resi.”

Tapi salah seorang istri tetap ngotot untuk menangkap suaminya, eh kok suaminya, menangkap sapi itu (red). Dengan alasan, dia punya seorang teman curhat, seorang emak-emak teman gosip yang di cintainya, alasannya susu sapi itu akan diberikannya kepada temannya ini, agar temannya ini bisa hidup abadi. Nah, kalau temannya bisa hidup abadi kan enak, si istri ini bisa terus ngegosip dan curcol dengan temannya ini.

Dasarnya suaminya emang alay dan takut sama istri 😀 , akhirnya kedelapan suami ini rame-rame, berjamaah menangkap Nandini ini. Segere mereka kabur jauh-jauh dari pertapaan itu, sebelum sang Resi pulang.

Enggg Ingggg Enggg, ketika Resi Wasistha pulang dari mencari sesuap nasi, aihhhh,,,Resi kaget karena si Nandini ini gak ada di tempat. Resi bingung ndak biasanya Nandini menghilang, boro-boro menghilang pergi jauh aja gak pernah. Nandini ini adalah sumber penghidupan sang Resi, selain ssusunya diminum sendiri, susu hasil perahannya juga sering dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar pertapaan yang menderita kurang gizi.

Dengan kekuatan batinnya, Resi Wasista segera melakukan olah tubuh sedemikian rupa, mealakukan tapa bratha, mandi kembang 70 rupa, mandi air 70 samudra. Emang samudra ada 70? ya anggap saja begitu, namanya juga cerita hehe. Segera Resi Wasitha tau, apa yang sebenarnya terjadi. Owhhhhhhhhh ternyata sapi ane dicuri sama “tikus-tikus” kahyangan.

Baiklah, kalian yang jual ane beli dah kemauan kalian. Terus yang nawar siapa?. Gak ada lah, emang ente kira ini transaksi pasar loak. Segera dengan kesaktian mandraguna nya Sang Resi ngirim sinyal ke kahyangan.

“Saya tau ada enam belas cecunguk disini yang nyuri sapi ane, ane tau orang-orangnya. Dasar ya kalian, sudah enak-enak jadi dewa, masih saja ngrecokin urusan manusia, kurang apa sih kalian?? hah??. Saya tidak peduli kalian mau minta maaf apa tidak, tapi saya akan mengutuk kalian untuk menjadi manusia menderita dan hidup di bumi, dan segera kembalikan sapi ane, kalau gak kutukan ane akan lebih kejam”. Suara sang resi menggelegar di kahyangan.

Gegerlah dunia maya, eh salah dunia kahyangan mendapat suara yang menggelegar, berwibawa, dan lantang plus ditambah aura-aura sakti mandraguna. Segera ke enambelas dewa-dewi itu menyesal dan malu akan perbuatannya yang nyleneh. Tanpa ba bi bu mereka segera menghadap Resi Wasistha ke pertapaan beserta sapi hasil curiannya.

Mereka berniat minta keringanan hukuman, kalau perlu langsung minta grasi atau diskon hukuman. Tapi bagi Resi Wasistha, hukuman adalah hukuman gak ada diskon-diskonan, ente kira ini supermarket yang lagi cuci gudang. Resi wasistha hanya mebebaskan hukuman kepada istri-istri mereka. Padahal kan yang memaksa untuk mencuri adalah salah satu dari istri. Ya hikmahnya adalah, bagi para suami didiklah istrimu dengan akhlak yang baik.

Akhirnya yang kena kutukan atau sumpah adalah delapan dewa ini gan. Kok dewa bisa kena kutukan ya?? namanya juga cerita wayang gan, jangan dipercaya hehe, ambil aja hikmah kehidupannya. Kedelapan dewa ini akan diturunkan dan hidup kebumi. Catatan, kan yang nyuri sebenarnya cuma salah satu dewa yang dipaksa istrinya, nah yang tujuh kan cuma mendukung, merestui, atau tidak melarang perbuatan si dewa ini yang melanggar hukum.

Next, ketujuh dewa ini hanya akan dilahirkan lewat seorang Dewi Gangga yang diberi mandat untuk mensukseskan program kutukn ini. Dewi Gangga ini sebenarnya seorang Bathari, karena dia turun dan mendarat di tepi Sungai Gangga, makannya namanya Dewi Gangga. Nah, ketujuh dewa ini hanya akan dilahirkan doang, setelah itu mereka akan dibuang ke Sungai Gangga oleh dewi Gangga ini. Kejem yak? Iya namanya juga cerita.

Terus bagaimana dengan satu dewa lagi yang nyuri sapi itu?? Singkatnya Dewa ini akan diturunkan kebumi lewat rahim si Dewi Gangga juga, sama kayak ketujuh dewa sebelumnya. Tapi, dewa yang satu ini akan selamanya tinggal di bumi, tentu saja menjadi manusia, dan kelak akan menjadi orang mahsyur dan sakti. Kelak dia kan gugur di Perang Mahabharata.

B E R S A M B U N G…..Yakkkkk

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe