Kisah Mahabharata 7: Raja Sentanu Bertemu Dewi Setyawati

Kisah Mahabharata 6: Lahirnya Dewabrata

enggg…ingg…egggg

Di kisah sebelumnya diceritakan bahwa setelah usianya beranjak dewasa, Dewabrata dipulangkan oleh Dewi Gangga kepada Raja Sentanu. Dibawanya Dewabrata ini ke Istana Hastinapura untuk dinobatkan sebagai putra mahkota. Dewabrata ini meskipun baru berusia belasan tahun tapi sudah menunjukkan watak ksatria, berbudi luhur, dan dikelilingi aura agung.

Semenjak dinobatkan sebagai yuwaraja atau putra mahkota, dewabrata bertugas membantu tugas-tugas ayahnya, mendampingi sang raja dalam menjalankan roda pemerintahan. Dewabrata ini lah yang kelak akan mewarisi Kerajaan Hastinapura, setelah Raja Sentanu sudah tua atau mengundurkan diri.

empat tahun setelah memboyong Dewabrata ke Istana Hastinapura. Pada suatu hari yang cerah, Raja Sentanu berjalan-jalan ke tepian Sungai Yamuna. Heran ni Raja kalau jalan-jalan sukanya ke sungai, iya lah kemana lagi? Jaman itu mall belum ada, supermarket belum dibangun, boro-boro dibangun, dirancang aja gak kepikiran. Ketika sedang asyik berjalan-berjalan menyusuri sungai Yamuna, ujug-ujug terciumlah bau harum semerbak. Raja heran aroma harum bunga-bunga ini darimana yak?

Setelah mencari-cari akhirnya ketemulah sebuah taman bunga di pinggiran sungai itu. Taman bunga alami yang banyak ditumbuhi berbagai macam bunga, beraneka warna, dan menghasilkan aroma wangi yang memanjakan hidung. Ketika raja mendekati taman itu, tidak sengaja Raja Sentanu bertemu dengan seorang gadis cantik, secantik Dewi Gangga, permaisurinya dulu.

“Duhai gadis jelita, siapakah Engkau? Darimana asalmu? Apakah Engkau yang membngun taman bunga ini?”

“Maaf Tuan, Hamba adalah setyawati anak seorang penangkap ikan sekaligus kepala kampung di sini. Benar tuan, ini adalah taman bunga yang hamba bangun untuk tempat menyendiri dan mencari inspirasi dikala hamba lagi sedih”. jawab Setyawati dengan lemah lembut dan sopan. Setyawati ini belum tau kalau yang di depannya adalah rajanya, Raja Sentanu penguasa kerajaan Hastinapura.

“Wahai Putri cantik, indah bener tamanmu ini. Aku sungguh terpesona dengan taman asri ini, pastilah putri seorang yang mencintai keindahan dan kerapihan. Maukah Tuan putri menjadi istri hamba, aku terpesona dengan kecantikan dan sikap lemah lemnutmu”. Ini orang susah jatuh cinta, sekalinya ketemu wanita cantik langsung diajak merit :smile:. Dulu dengan Dewi Gangga juga begitu, baru ketemu eh langsung diboyong ke istana dan dijadikan permaisuri.

“Daulat hamba tuanku, kalau dilihat dari penampilan Tuan, Tuan pastilah orang kaya, bangsawan, berasal dari keturunan orang terhormat. Hamba hanya seorang anak penangkap ikan, orang desa yang tidak punya kedudukan apa-apa tuan”, jawab setyawati

“Itu tidak penting Tuan putri yang cantik, kalau begitu baiklah bawalah aku untuk menemui ayahmu, sekarang ini juga aku akan meminangmu”, jawab Raja Sentanu tegas. Nah ini baru pria, langsung menemui ayahnya, langsung melamar 🙂

“Baiklah Tuanku, mari Tuan akan kubawa ke Ayahanda, Hamba hanya akan mengikuti apa kata ayah”, jawab setyawati

Setelah beberapa waktu perjalanan, akhirnya sampailah Raja Sentanu, Dewi Setyawati, dan sais (pilot kereta Raja Sentanu) di rumah putri ini. Rumah sederhana dan agak besar dibanding dengan rumah-rumah penduduk disekelilingnya. Maklum kan emang dia kepala kampung hehe….

Sampai di rumah putri ini, Ayah Setyawati mempersilahkan duduk sang Raja dan mengutarakan maksud kedatangannya.

“Maaf kan hamba paduka, kalau tidak salah bukankah paduka ini Raja Sentanu, Raja Hastinapura, Raja kami”, tanya ayah si putri ini dengan hati-hati

“Benar Bapak Nelayan, aku menemukan putrimu ini sedang istirahat di taman, di tepi sungai Yamuna, dia sedang stirahat setelah seharian mencari ikan. Aku terpesona denga kecantikan putrimu, terpesona dengan tutur katanya yang lembut, aku berkmaksud mempersunting anak Bapak untuk ku boyong ke istana hastinapura”, jawab Raja Sentanu

“Memang sudah saatnya putriku menikah, Baginda Raja. Dan kebetulan sampai sekarang belum ada laki-laki yang melamar atau dekat dengan dia. Mungkin karena putri hamba ini sering menyendiri dan pemalu untuk bergaul. Hamba sebagai nelayan biasa-biasa saja tentu sangat senang menerima pinangan seorang Raja masyur”.

“Tapi Apakah Baginda Raja tau konskwensinya, jika anak hamba kelak menjadi permaisuri baginda raja, maka anak-anak dari putri hamba akan menjadi putra mahkota. Mengingat sekarang Baginda Raja tidak punya permasuri” tanya bapak nelayan hati-hati.

Raja sadar, bahwa ini memang berat. Sudah adat-istiadat di kerajaan manapun, bahwa anak dari permasuri utama adalah putra mahkota, pewaris kerajaan. Sedangkan Raja Sentanu sekarang sudah memiliki putra mahkota, yang sudah dinobatkan sebagai Yuwaraja. Tentu tidak mungkin Dewabrata diturunkan dari putra mahkota, ini akan dimurkai dewa-dewa kahyangan dan akan menyebabkan huru-hara di negeri hastinapura.

Raja bimbang, sebagai seorang raja yang memiliki kekuasaan luas, tentu dia membutuhkan seorang pendamping hidup. Raja mana sih yang tidak punya permaisuri? Raja ecek-ecek aja punya permaisuri, bahkan selirnya sampai berderet-deret :smile:. Di sisi lain, tidak mungkin jika kelak dia merit dengan Dewi Setyawati, dan mempunyai anak laki-laki, anak laki-laki dari setyawati ini akan menjadi putra mahkota.

Sebagaai seorang raja sekaligus ksatria luhur, Raja Sentanu tidak akan mengorbankan anak nya Dewabrata lengser dari putra mahkota. Apa kata rakyatku nanti, kalau dewabrata di turunkan dari putra mahkota gara-gara dia merit dengan putri seorang nelayan. Bukan masalah anak seorang nelayannya, tapi raja tidak mau dikatakan egois, hanya mementingkan diri sendri.

“Aku mengerti bapak nelayan, baiklah hamba harus berpikir masak-masak dulu. Maafkan kedatanganku karena telah mengganggu istirahat bapak nelayan dan tuan putri”.

“Hamba mengerti perasaan Baginda Raja, justru hamba sangat senang kedatangan seorang raja yang luhur ke tempat peristirahatan tempat hamba yang sederhana ini. Maafkan jika jawaban hamba mengusik perasaan Paduka Raja, hamba hanya memegang teguh adat-istiadat kerajaan”, jawab bapak nelayan dengan perasaan hati-hati.

“Aku pamit bapak nelayan. Tolong sampaikan salam pamit kepada Putri Bapak, maafkan jika aku mengganggu istirahat putri bapak”.

“Tentu saja Baginda Raja, dengan senang hati”, jawab bapak nelayan dengan senyum ramah.

Raja Santanu kembali ke istananya di Hastinapura. Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapat-rapat. Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan oleh Dewabrata.

Begitu juga dengan Dewi Setyawati, dia selalu murung semenjak pertemuan itu. Bukan karena gagal menjadi permaisuri, tapi adat-istiadat kerajaan telah menghancurkan cintanya , ciehhh :smile:. Setyawati sangat terkesan dengan Raja Sentanu yang santun dan sopan. Meskipun dia seorang raja, tapi tindak tanduknya sangat menghormati rakyat kecil, merakyat dan tidak sok berkuasa. Nah, ini yang membuat setywati jayuh hati. Sebenarnya Setywati tidak bernafsu putra-putra menjadi putra mahkota. Tapi garis kitab nenek moyang berkata lain….Cinta mereka tidak bisa bertemu ….

B E R S A M B U N G