Kisah Nyata Islami Tentang Kematian Husnul Khatimah.

Kenapa nulisnya Husnul bukan Khusnul?

Husnul asal katanya adalah “hasan” yang berarti ‘baik’. “Husnul berarti ‘terbaik’. Jadi, makna dari kalimat “husnul khatimah” adalah “mati di saat (dalam keadaan) yang terbaik”.

Khusnul artinya terhina/ terendah. Maka, makna kalimat “khusnul khatimah adalah “mati disaat (dalam keadaan) dihinakan/ direndahkan.

Jadi, jauh sekali maknanya, meski Cuma beda huruf “k” di depannya, tapi kanya sangat bertolak belakang.

Kisah di bawah ini adalah nyata tentang kematian seorang gadis yang begitu indah atau Husnul Khatimah. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari kisah ini:

Baca juga Kisah Inspiratif Islami Tentang Bersyukur.

Kisah ini dituturkan oleh Ummu Ahmad al-Du’aijy dalam sebuah wawancara dengan Majalah al-Yamamah.

Seorang gadis meninggal dunia di usia 20 tahun setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sesaat sebelum ia meninggal, keluarganya bertanya kepadanya: “Bagaimana kabarmu?”

Lalu ia menjawab: “Baik sekali, alhamdulillah.” Namun tidak lama kemudian ia meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.

Mereka membawanya ke tempat pemandian mayat. Dan ketika kami meletakkannya di atas kayu tempat pemandian, kami pun mulai memandikannya.

Tiba-tiba kami melihat wajahnya yang bercahaya dan tersenyum. Ia seperti sedang tidur di atas pembaringannya. Sama sekali tidak ada luka, tulang yang patah atau darah yang mengalir.

Yang menakjubkan adalah ketika mereka ingin mengangkatnya untuk menyelesaikan proses pemandian itu, tiba-tiba dari hidungnya keluar cairan putih yang kemudian memenuhi ruangan pemandian itu dengan aroma semerbak yang sangat wangi !!

Subhanallah ini benar-benar semerbak misk (wangi sorgawi). Kami semua bertakbir memuji Allah. Sampai-sampai putriku yang juga sahabat dari gadis yang meninggal itu menangis.

Kemudian aku bertanya kepada bibi gadis itu tentang bagaimana gerangan gadis itu semasa hidupnya?

Maka ia mengisahkan: “ ia tidak pernah meninggalkan satu kewajiban pun sejak ia memasuki usia mumayyiz-nya (sudah dapat membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk , kira-kira umur 7 tahun). Ia tidak pernah menonton film, serial sinetron dan televisi, dan ia tidak pernah mendengarkan musik dan nyanyian dan semua hal yang melenakan.

Sejak usia 13 tahun, ia terus berpuasa Senin-Kamis. Ia sudah berniat untuk bekerja sukarela memandikan mayat. Namun ternyata ia harus dimandikan lebih dahulu sebelum ia memandikan orang lain. Semua guru dan kawannya mengenang ketakwaan, akhlak dan perilakunya. Pergaulannya begitu berpengaruh dan berkesan bagi guru dan kawan kawannya semasa hidup hingga kematiannya.

“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Kemudian beliau bersabda: “Allah saw. mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Baca juga Kisah Ulama yang Gigih Menuntut Ilmu.