Kisah Sepatu Bally Bung Hatta

Kisah Sepatu Bally Bung Hatta

Kisah Sepatu Bally Bung Hatta


Bahwa orang-orang besar senang berbicara tentang ide-ide, sementara orang biasa suka berbicara
tentang diri mereka sendiri dan orang-orang kecil suka berbicara tentang orang lain.

Orang-orang besar membicarakan bagaimana agar Indonesia menjadi kuat dan tangguh, mandiri, menjadi Tuan di Negeri sendiri.

Orang biasa mah bicaranya, yang penting bisa makan, bisa bayar ini itu, bisa beli beras aja udah untung.

Orang-orang kecil membicarakan orang lain, membicarakan artis-artis yang sering berseliweran di TV, membicarakan tetangga yang baru beli kulkas, mengeluhkan tukang sayur yang datangnya kesiangan.

Ketika dipenjara oleh Bung Karno, apa yang dikatakan oleh Buya Hamka?

“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Subhanallah, Alangkah besar jiwa seorang Buya Hamka. Coba kalau kita? Atau bahkan pejabat-pejabat sekarang? Kamu jual aku beli, kamu bongkar aku juga bongkar. Karena pada mau saling bongkar yah gini deh jadinya, hukum di Indonesia Cuma muter-muter kayak gangsingan.

Tau gak siapa pemimpin imam sholat jenazah ketika Bung Karno wafat? Ternyata adalah Buya Hamka. Kok bisa? Meskipun secara politik mungkin Bung Karno dan Buya Hamka bersebrangan tapi Bung Karno mengakui keulamaan Buya Hamka.

“Bila aku kelak wafat, aku minta kesediaan Buya Hamka untuk menjadi Imam sholat jenazahku” wasiat Bung Karno menjelang wafatnya.

Ya tentu saja banyak yang ndak setuju kalau Buya Hamka mengimami sholat jenazah Bung Karno, tapi Buya Hamka dengan ikhlas toh mau melaksanakan wasiat orang yang telah menjebloskannya ke penjara.

Hebat yah. Awal-awal kemerdekaan Bangsa ini diisi oleh orang-orang keren, tegas dan berprinsip.

Pernah dengar cerita Bung Hatta ingin membeli Sepatu Bally. Bukan cerita sebenarnya, ini kish nyata kok. Bung Hatta pernah menyimpan iklan sepatu bally, dengan maksud suatu hari nanti dia akan bisa membeli sepatu yang diidam-idamkannya.

Mulailah Bung Hatta menabung sedikit demi sedikit, dengan harapan bisa membeli sepatu bally tersebut.

Next?

Hingga akhir hayatnya Bung Hatta ndak kesampaian membeli sepatu bally tersebut. Ini bukan karena Bung Hatta ndak rajin atau ndak konsisten menabung. Uangnya selalu habis buat kebutuhan keluarga, yang paling mengesankan adalah ternyata sebagian besar penghasilan Bung Hatta habis buat menolong orang-orang yang datang kepadanya untuk minta bantuan. Bukan pengemis, tapi emang rakyat yang secara ekonomi kesulitan.

Akhir kisah ditutup dengan ditemukannya potongan iklan Sepatu Bally yang masih rapi, ketika Bung Hatta Wafat.
Ya Allah, seorang proklamator yang notabene pejabat negara, buat beli sepatu aja ndak “sanggup”. Bandingkan dengan para pejabat kelian..lihat noh..lihat..Miris!!

Ketika hubungan Bunga Karno dan Bung Hatta renggang. Orang-orang yang Pro Bung Karno berinisiatif mencoret nama Bung Hatta dari teks proklamasi.

Apa tanggapan Sukarno?

Bung Karno marah dengan tindakan orang-orang yang pro dengannya.
“Kalian pengecut!! Kerdil!! Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Kalau pejabat-pejabat negara jaman sekarang? Ah sudahlah..bukan politiknya yang salah, bukan keksuasaanya yang salah, tapi yang megang jabatan yang salah.

Kita rakyat kecil ndak sepenuhnya tau mau dibawa hubungan kita, eh mau dibawa kemana sebenarnya bangsa dan negara ini?

Kita rakyat kecil hanya didatangi mereka-mereka ketika mereka butuh suara. Kita dikasih amplop, dangdut, sembako, kaos, ya elah segitu rendahnya kah harga diri rakyat? Belum lagi dijejali dengan informasi-informasi absurd.

Bener kata orang kalau ingin menguasai, kuasailah dulu media.!!

Kembali ke laptop gan. Ide-ide para pendiri bangsa ini entah sudah nyampe mana. Yang jelas dari berbagai bidang kehidupan bangsa ini masih jauh ketinggalan.

Mungkin kita terlalu banyak bergosip. Kok gitu? Ya kan Gosip membuat orang menjadi kecil. Tidak ada sesuatu yang bisa ditawarkan dalam gosip. Gosip hanya mengurangi kredibilitas orang membicarakan dan yang dibicarakan serta bisa menghancurkan orang yang mendengarkan. Halah.

Setiap hari rakyat dijejali gosip ini itu, akhirnya ya udahlah kita terima aja, mau gimana lagi wong keadaanya udah gini.

Maka pesen admin, jangan sering nonton gosip, sinetron, atau acara-acara yang sejenisnya. Gak ada manfaatnya. Perbanyaklah baca buku, seperti halnya Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka atau tokoh-tokoh yang lain.

Meski sekilas baca buku ndak ada manfaatnya, tapi yakinlah sumpah suatu saat nanti ilmu itu akan berguna.

Dan meskipun kita misalnya tukang sayur, tukang buah, tukang tambal ban, dan tukang apalah-apalah mari TETAP membicarakan ide-ide besar yang bisa mengubah Kehidupan yang lebih baik.

Ingat kalau udah makmur perhatikan juga orang lain. Karena di dalam rezeki kita terdapat hak orang lain. Belajar dari Bung Hatta bro..

2 comments