Kisah Ulama yang Gigih Menuntut Ilmu.

Kisah ini pernah saya baca di beberapa Majalah Islami dan Novelnya Kang Abik “ Di atas Sajah Cinta”.

Kenapa saya posting? Karena saya suka dengan kisahnya dan hikmahnya luar biasa. Bayangin aja dalam keadaan yang sangat amat lapar, masih mampu memuntahkan makanan yang ada di mulutnya karena ingat bahwa ini adalah mencuri.

Bisa gak kita seperti Sulaim As-Suyithi ini?

Kisah ini terjadi ketika Sulaim As-Suyuthi masih muda, dari seorang penuntut ilmu yang gak punya apa-apa, penjaga Masjid, kemudian dinikahkan dengan janda kaya oleh gurunya. Gurunya ini adalah seorang ulama/pengajar di Masjid yang ia tempati.

Tidak disebutkan siapa nama Gurunya. Setelah menikah, dengan bekal harta dari istirnya Sulaim As-Suyuthi ini gemar menuntut ilmu. Masya Allah ya kalau punya istri yang solehah hehe. Sampai akhirnya Sulaim ini menjadi ulama masyur dan terkenal.

Nah, setelah menjadi ulama Besar Sulaim As-Suyuthi ini menjadi seorang Syaikh dan mengabdikan dirinya di Masjid tempat dulu ia belajar waktu muda.

Begini kisahnya, semoga kita bisa mengambil hikmahnya;

Masa muda Syaikh Sulaim As-Suyuthi yang terjadi di kota Damaskus, Syria, dimana Daulah Umawiyah menjadi ibu kota pada zaman itu. Di kota itu terdapatlah sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Jami’ At-Taubah.

Masjid At-Taubah ini dibangun oleh seorang sultan pada abad ke-7, konon sebelumnya adalah tempat hiburan, tempat kemaksiatan. Syaikh tinggal di salah satu ruangan masjid itu hampir tujuh puluh tahun.

Syaikh sangat termasyur dan dipercaya karena Kezuhudannya. Seringkali ia lewati hari-hari tanpa ada makanan sedikitpun ataupun sekeping uang untuk membeli makanan. Dalam kelaparan sering kali ia merasa kematiannya sudah dekat, tetapi ia menganggapnya sebagai ujian.

Suatu ketika ia menemui keadaan yang sedemikian gawat karena sudah berhari-hari ia tidak makan, demi mempertahankan hidup ia harus makan apa saja. Keadaan yang sangat darurat yang dalam ilmu fiqih sudah sampai batas diperbolehkan makan bangkai atau mencuri.

Saat itu Sulaim memilih mencuri segenggam makanan. Menjelang Ashar ia keluar dari masjid, jika diluar masjid ada yang memberinya makan alhamdulillah. Jika tidak ia terpaksa harus mencuri.

Masjid At-Taubah berada disekitar perkampungan yang rumahnya saling berdampingan satu dengan yang lainnya. Terpikir oleh Syaikh untuk melintas diatas rumah-rumah penduduk itu, kalau-kalau ada makanan yang dijemur di atas rumah.

Ia melihat sebuah rumah yang sedang kosong dan segera melangkah ke atap rumah itu, ia mencium bau masakan yang membuat air liurnya keluar. Dengan dua kali lompatan ia sudah berada di atap rumah tersebut dan segera menuju dapur, dilihatnya beberapa terong yang baru saja direbus.

Karena rasa lapar yang tidak tertahankan lagi, ia langsung memakan terong itu tanpa peduli lagi panasnya makanan tadi. Namun ketika hendak menelannya, nuraninya mengusiknya. Ia berkata

” Astaghfirullah, A’udzubillahi minasy syaithanir rajim…

” Aku mencuri? Aku mencuri?”

” Mana imanku? Mana imanku? Aku berlindung kepada Allah.”

” Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

” Aku seorang mu’azin di masjid, seorang penuntut ilmu, murid seorang ulama besar, tapi berani masuk ke Rumah orang lain dan mencuri?”

” Astaghfirullah… Ini tidak boleh terjadi.”

Ia langsung mengeluarkan semua terong yang sudah ia mamah dimulutnya, mengembalikan terong yang telah ia gigit. Airmatanya terbit, menyesali perbuatannya dan merasa telah melakukan dosa besar. Ia kembali ke masjid dan sepanjang jalan terus beristighfar.

Usai shalat Ashar ia duduk mengikuti dan mendengarkan pengajian sang Guru di masjid sambil terus memikirkan perbuatannya siang tadi. Usai pengajian dan semua orang telah pergi, tiba-tiba datang seorang wanita dengan memakai cadar muka menghampiri gurunya dan berkata kepada Gurunya dengan ucapan yang sama sekali tidak dapat ia dengar.

Setelah itu Gurunya memanggilnya karena tidak ada orang lain lagi disekelilingnya dan bertanya,

” Apakah kamu telah menikah?”

” Belum jawabnya.” Guru betanya lagi,

” Apakah kamu ingin menikah?”

Ia terdiam, perutnya semakin melilit. Ia tidak memikirkan menikah, tetapi memikirkan nasib perutnya yang sudah sekian hari tidak kemasukan makanan. Kemudian guru mengulangi lagi pertanyaannya, dan Syaikh menjawab,

” Guru, Demi Allah, untuk membeli sekerat roti pun saya tidak mampu, bagaimana mungkin saya menikah?”.

Gurunya itu tersenyum lalu berkata,

” Wanita ini bercerita bahwa suaminya baru saja meninggal. Massa Iddahnya telah habis. Ia ingin mendapatkan suami lagi yang menikahinya sesuai Sunnah Rasulullah SAW, agar tidak sendirian lagi, sehingga menutup kesempatan mereka yang ingin berbuat jahat. Apakah kamu mau menikahinya?”

Syaikh menjawab, “Insya Allah saya mau.” Dan si wanita tadi pun menerima Syaikh sebagai suaminya.

Guru langsung menghadirkan dua orang saksi untuk melaksanakan akad nikah dan memberikan mahar untuk muridnya. Setelah itu sang wanita membawanya kerumahnya. Sesampainya di rumah sang wanita membuka cadarnya, Syaikh kaget karena isterinya itu sungguh sangat cantik. Wajah istrinya putih bersinar. Ia semakin kaget saat ini dia berada di rumah yang siang tadi ia masuki.

” Apakah Kanda sudah makan siang?” Tanya sang wanita.

Syaikh menjawab “belum”. Kemudian sang wanita mengajak Syaikh ke dapur untuk makan. Namun, saat membuka tutup panci betapa kagetnya sang wanita seraya berkata,

” Mengherankan! Siapa yang berani masuk rumah ini dan menggigit terong ini! Mungkin orang yang lancang ini tahu kalau aku janda sehingga berani nya ia masuk rumah ini!”

Mendengar hal itu, Syaikh menangis dan ia mulai menceritakan yang sesungguhnya terjadi. Ia minta maaf. Wanita itu pun menangis mendengar cerita suaminya. Dengan terisak ia berkata,

” Kau lulus ujian, Suamiku. Kamu menjaga dirimu dari perbuatan haram. Sebagai gantinya Allah memberikan terong ini semua bahkan pemiliknya dan seisi rumahnya secara halal”.

Sejak itu ia tinggal bersama isterinya yang cantik, salehah, cerdas. Dan dengan hartanya ia menuntut ilmu menjadi seorang Ulama Besar.