Makna Sebenarnya Dibalik Ijab Qabul.

Kata orang tua-tua dulu, nikah itu gampang. Kehidupan setelah nikahnya itu yang berat. Kalau orang-orang sekarang kebalik, nikahnya dibikin ruwet, kehidupan setelah nikahnya digampangin.

Kehidupan setelah nikah emang berat ya? Maksudnya berat adalah: ada tanggung jawab besar di sana. Menjaga keharmonisan rumah tangga, mencari nafkah, mendidik anak, hidup mandiri, saling menjaga dan menegrti antara suami dan istri dan yang pasti harus bersama-sama selamat dari api neraka.

Baca juga Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).

Tuh kan ada ayatnya, selamat dari api neraka berat kan? Iya berat karena syaithon selalu ngipas-ngipasin manusia untuk selalu ingkar dan membangkang akan perintah Allah.

Anakku, (cie anakkku, anggap aje, aye lagi ngasih nasehat orang yang baru nikah)  ijab qabul adalah sesuatu yang sangat ditunggu dalam sebuah perhelatan pernikahan.

Kalimat ”Saya terima nikahnya si dia binti ayah si dia dengan mas kawinnya. . . . . “ menjadi kalimat sakral.

Apalagi diawali dengan nama Allah yang mengandung arti Allah menyaksikan sumpah ini. Kalimat ini sangat singkat, padat dan jelas. Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut ?

Ikrar ini merupakan ikrar yang berat, karena sejak saat seorang lelaki mengucapkan ikrar ini dan dianggap syah oleh saksi dan hadirin, maka sejak detik itu pula tanggung jawab orang tua beralih kepada lelaki tadi. Sehingga dosa apa saja yang dilakukan oleh istrinya akan menjadi tanggung jawab sang suami.

Bagaimana kalau seorang suami gagal dalam mendidik istrinya ?, ”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar, dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”. (HR. Muslim).

Kalau difikir sungguh berat tanggung jawab ini. Karena perjanjian yang diucapkan ini mampu mengguncangkan Arsy. Dicatat oleh malaikat sambil mengamini. Begitu beratnya sehingga kepada istri diwajibkan berbuat baik kepada suami. Maka andai saja kamu menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu. Ridha suami adalah ridha dari Alloh.

Beratnya tanggung jawab seorang suami mengkibatkan seorang suami diberi kedudukan yang agung dihadapan istrinya. Sehingga baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Seandai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Azza wa Jalla terhadap dirinya hingga ia menunaikan seluruh hak suami terhadapnya. Sampai-sampai jika suami meminta dirinya sementara ia sedang berada di atas pelana maka ia harus memberikan .”

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Bagi kaum emak-emak dan wanita, gampang gak melakukan hadits di atas:

>> menjaga sholat lima waktu

>> puasa di bulan ramadhan

>> menjaga kemaluan

>> mentaati suami

Jangan gampangin, bukan maksud apa-apa, banyak para istri dan suami tidak menjaga sholat, sholat bolong-bolong. Padahal sholat adalah tiang agama islam.

Puasa ramadhan dan menjaga kemaluan mungkin banyak yang lolos. Maksudnya lolos, iya mereka lakukan. Kalau mentaati suami? Ini berat loh, karena menyangkut ego. Kalau sudah menyangkut ego, biasanya emang rawan cekcok.

Namun, istri shalehah hanya hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istrimenjadi ‘yang terbaik’, sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.

Aamiin.. Yaa Rabbal alamin.

Baca juga Kapan Saya Dapat Jodoh? Mencari Jodoh Lewat terapi

 

 

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe
%d blogger menyukai ini: