Mana Yang Lebih Baik, Kaya Raya atau Cukup?

Mana Yang Lebih Baik, Kaya Raya atau Cukup?

Mana yang kebih baik, kaya raya atau cukupHMMM
Pertanyaana gampang, jawabnya yang susah. Susah sih enggak, tergantung dari sudut pandangna juga sik…

Di antara umat Islam banyak yang mengoptimalkan ibadahnya dengan doa-doa di setiap selesai sholat fardhu maupun ibadah sunah, di antaranya terselip doa meminta kekayaan berlimpah.

Apakah salah meminta kekayaan sama Allah? Tentu tidak, justru Allah seneng kalau hamba-hambanya berdoa, meminta, berharap, bersandar sama Allah. Daripada meminta kekayaan sama dukun atau paranormal, kaya belum tentu, dosa besarnya udah pasti.

Bahkan dalam islam sendiri kita dianjurkan untuk kuat. Muslim yang kuat lebih baik daripada muslim yang lemah. Kuat disini salah satunya kuat dalam bidang ekonomi, yaitu keyaan.

Kenapa dianjurkan kuat secara ekonomi? Simple saja, kemiskinan memudahkan seseorang untuk terjerumus ke maksiat. Mencuri misalnya, yang lebih parah kan kalau iman kita tergadai dengan paket-paket sembako. Nah makanya, dianjurkan untuk kuat secara ekonomi. Kalau jadi orang kaya, kayaknya gak mungkin deh menggadaikan iman dengan bingkisan sembako.

Memang banyak orang tentunya ingin memiliki harta yang berlimpah. Seseorang dengan harta melimpah bisa membeli banyak yang dibutuhkan. Dia bisa memuaskan nafsu belanjanya. Pergi ke mana saja yang disukai. Dengan kekayaannya dia bisa punya rumah tingkat sepuluh yang megah, punya mobil-mobil berharga em – em an.

Namun, kalau itu menjadi tujuan, maka perlu kiranya kita pikirkan, bahwa di samping kemudahan-kemudahan tersebut, keadaan kaya raya tidak menjamin cukup dalam kebutuhan hidupnya.

Bisa jadi ia memiliki banyak luas sawahnya, akan tetapi apabila dia mengidap penyakit diabetes, sehingga mesti mengurangi makan nasi, tentu itu akan mengurangi nikmat rejekinya.

Bisa jadi dia punya banyak perusahaan dan ribuan karyawan, akan tetapi dia stroke akut. Stress karena terlalu banyak harta yang ia pikirkan. Apa enaknya coba hidup kek gini?

Punya rumah mewah yang menikmati malah Asisten Rumah Tangganya
Punya mobil mewah malah yang sering pakai sopirnya
Punya kolam renang di rumah malah yang sering pakai tukang kebunnya.

Hiks,,baik banget punya apa-apa, orang lain yang suruh menikmati hasil kerjanya.

Dikhawatirkan mereka yang hanya tujuannya menjadi kaya raya, akan mengejar tujuannya dengan cara apa pun, bahkan yang melangggar hukum sekalipun, korupsi misalnya.

Sedangkan untuk keadaan cukup, kita melihat ada kondisi lain bagi orang yang berkecukupan, dalam arti, bisa jadi ia tidak berlimpah kekayaannya. Namun, ia bisa memenuhi banyak yang dibutuhkannya dengan pertolongan Allah SWT tentunya.

Tak Perlu menjadi seorang kaya raya. Asal cukup saja. Tidak penting menjadi orang kaya raya, yang lebih penting bila perlu cukup.

Butuh untuk makan … cukup.
Butuh untuk biaya sekolah … cukup.
Butuh untuk ongkos / beli kendaraan … cukup.
Butuh untuk melunasi rumah … cukup.
Butuh untuk berhaji … cukup.
Butuh untuk senantiasa sedekah / wakaf / amal jariyah … cukup. Cukup cukup! Aku udah paham kok hehe…

Jadi, apa perlunya dengan kata kaya raya, bila semua beres dengan cukup. Juga tidak perlu serba banyak, yang penting cukup.

Apa artinya sepatu banyak bila tak ada yang cukup. Sebagaimana tidak perlu banyak tidur yang penting cukup tidur.

Tak perlu juga banyak makan, yang penting cukup makannya.

Hidup senantiasa dicukupi oleh Allah SWT. Persyaratan utamanya adalah tawakkal keyakinan yang mantap, bulat utuh terhadap semua janji dan jaminan-Nya, sehingga tak ada di hati bersandar, berharap, dan bergantung kepada siapapun selain hanya kepada-Nya,

“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Dan figur ahli tawakkal adalah hatinya senantiasa tulus, ibadahnya sangat bagus, hidupnya selalu lurus, ikhtiarnya serius dan tobat terus menerus.

Seseorang itu dicukupi Allah SWT bukan karena sesuatu dari dunia ini. Memiliki apa saja tetapi tidak mempunyai tawakal itu artinya miskin.

Mereka yang memperoleh hartanya dengan tidak wajar, berarti menggadaikan keimanan sikap tawakalnya demi sedikit dari duniawi ini.

Orang-orang licik, korupsi, mencuri, itu walaupun secara materi bisa jadi kaya raya, tetapi batinnya miskin, karena dengan korupsi berarti selalu merasa tidak cukup.

Gimana sik kalau batinnya miskin? Kelihatannya mah kaya raya, apa-apa punya, tapi apa-apa minta, keluar uang seribu aja kok kayaknya susah banget. Kalau udeh begini, boro-boro sedekah gitu yak, lha wong ada orang minta-minta air pun kagak dikasih. Lha ini pan miskin bingits. Air aja kagak punya. Prihatin.

Berapa pun kekayaannya orang-orang yang licik, mereka tidak bisa menikmatinya, karena oleh Allah SWT sudah dicabut menikmatannya. Tuh kan dengerin, Allah udeh bilang mencabut kenikmatannya. Lha kalau udeh dicabut kenikmatannya, mau ngapain hidup? Hidup terasa kering, jempling, garing, gersang, kerontang, yang ada di otaknya cuma uang, uang, uang.

Orang serakahdan picik ini akan tetap saja mencuri karena jiwanya sangat miskin, sehingga ia akan terus mencuri lagi.

Walau pun makanan serba enak, selalu bergizi, lezat-lezat akan tetapi seandainya Allah mengurangi kenikmatannya, maka mudah saja bagi Allah dengan ditimpakannya penyakit.

Coba aja perhatikan penyakit orang-orang kaya kan aneh-aneh,stroke lah, jantung lah, darah tinggi, bahkan ada yang komplikasi berbagai macam penyakit. Berobat ke sana ke mari ndak sembuh-sembuh. Bahkan berobatnya sampai ke luar negeri menghabiskan uang milyaran, ckckckc…Ya gitu, Allah akan mengambil harta haramnya dengan cara paksa.

Itu daru di dunia, gimana kalau di akhirat coba?

Oleh karenanya akan memilih yang mana kita? Ingin menjadi orang-orang yang berambisi kaya raya, dengan cara apa pun, sehingga jauh dari Allah SWT, atau menjadi orang yang pas ketika memerlukan, kemudian ada solusinya dari Allah SWT, karena kedekatan kita dengan Allah SWT.

Menjadi kaya belum tentu keperluannya tercukupi, kalau jiwanya miskin ia akan disiksa dengan yang tidak ada.

Hidup kita tidak perlu menjadi orang kaya semua, tidak mungkin. Tapi tentunya kita berharap setiap kita yang memiliki keperluan, lalu Allah SWT memberikan jalan keluarnya. Berambisilah untuk memperoleh keridhoan Allah SWT.

Maka tidak perlu terpesona dengan dunia ini, tapi terpesonalah dengan orang yang bertauhid benar-benar. Dunia diberikan kepada siapa pun dari makhluk-makhluk-Nya yang dikehendaki. Perlu diingat pula sudah dari masa-masa kita belum ada, di Lauhul Mahfudz, Allah SWT telah menempatkan kavling kehidupan kita masing-masing.

Maka syukurilah apa yang dirasa itu nikmat karunia Allah, karena Nabi Sulaiman as pun sangat dikenal dengan seorang nabi yang penguasa dan kaya raya, toh begitu Nabi Sulaiman tetap menjadi soleh,beriman, bertaqwa kepada Allah. Dia meletakkan dunia di tangan, dan meletakkan akhirat di hati.

Bersabarlah apabila itu dirasa menghimpit kehidupan, dengan dibarengi ikhtiar, doa, dan patuh, serta pasrahkan kepada Allah dengan optimal, sehingga bisa memiliki kavling kehidupan yang terbaik di dunia maupun di akhirat.

Ingat pesannya: Kaya itu baik. Bahkan Muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada Muslim yang lemah. Kuat disini salah satunya adalah kuat dalam perekonomian.

Kaya itu baik selagi betul-betul jaga Allah. Pakai dah kekayaan itu untuk investasi akhirat: sedekah, bangun masjid, bangun pesantren, umrah, bantu sesama muslim, dan lain sebagainya.

Orang kaya yang bersyukur dan bertaqwa itu lebih baik daripada miskin yang ngeluh mulu.
Salam…

Sumber Ceramah Aa Gym, dengan penambahan kata-kata dari penulis, dan edit sana-sini. hehe

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe
%d blogger menyukai ini: