Menangis Dalam Pandangan Islam dan Menurut Para Ulama.

Kami akan postkan Menangis Dalam Pandangan Islam dan Menurut Para Ulama. Sumbernya dari perkataan para ulama ulama masyur dalam peradaban Islam.

Seorang santri datang melapor ke kantor sambil tersedu-sedan. Tatkala ditanya mengapa, sambil menggosok-gosok mata, anak culun itu berkata:

“Rindu keluarga …”

Seorang anak balita duduk meraung ditepi jalan sambil menerjang-nerjangkan kakinya, sementara sang ibu bersahaja tercegat berdiri, menunggu dihadapanya. Tatkala ibu tersebut ditanya mengapa, dengan santai dia menjawab:

“Minta beliin bon-bon, saya nggak beliin langsung ngambek ..”

Seorang ibu terisak, mengusap matanya yang sipit memerah. Matanya yang sembab menjadi jawaban atas penderitaan yang dirasakannya. Bila ditanya mengapa, dengan terharu dia menimpali:

“Suamiku tercinta barusan dipanggil kembali ke pangkuanNya ..”

Seorang ayah meringis menahan diri sembari mengeluarkan airmata. Keringat yang bercucuran menjadi penasaran bagi mereka yang melihatnya. Apabila ditanyakan mengapa, dengan lirih dia menjawab:

“Saakiiiit tau! Maagku kambuh …”

Belajarlah untuk mencari tahu faktor dan penyebab atas turunnya air yang meluap melalui kekalahan pikiran dan perasaan akibat bendungan beban yang tidak tertahankan ini. Apakah dikarenakan rindu, marah, kehilangan, sakit atau selainnya?

Wahai para hamba …

Tanyalah pada diri-diri kita, apakah kita pernah menangis?

Pernahkah kita meneteskan butiran kristal bening, yang turun mengalir deras melewati kelembutan pipi, mengarungi lekuk-lekuk wajah ini?

 

Berikut ini adalah perkataan Ulama tentang nangis:

Ibnu al-Qayyim rahimahullaah pernah mengatakan:

“Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allaahu Ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allaah adalah hati yang keras.”

(Badaa’i al-Fawaa’id: 3/ 743).

 

Sufyan ats Tsaury rahimahullaah berkata:

“Menangis itu ada sepuluh macam, yakni sembilan karena selain Allaah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allaah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.”

(Hilyatul Auliya’: 7/ 11).

 

Qasamah bin Zuhari rahimahullaah berkata:

“Abu Musa pernah berkhutbah di Kota Basrah. Ia berkata:

“Wahai manusia, menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis. Karena penghuni Neraka akan menangis dengan mengeluarkan air mata sampai habis. Kemudian mereka akan menangis dengan mengeluarkan air mata darah.

Bahkan seandainya disitu dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa berjalan.”

(Hilyatul Auliya’: 1/ 261).

 

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullaah mengatakan:

“Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allaah.”

(al-Bidaayah wa an-Nihaayah: 10/ 256).

 

Ka’bul Ahbar rahimahullaah berkata:

“Sungguh aku lebih suka menangis karena Allaah, lalu air mataku mengalir di atas pipiku, daripada bershadaqah dengan emas seberat timbanganku.”

(Hilyatul Auliya’: 5/ 366).

 

Duhai jiwa, tepuklah dadamu dan selami qalbumu. Pujuklah hatimu sembari bertanya:

“Mengapa aku tidak menangisi dosaku karena takut kepada Allaah Yang Tidak Tidur ini?”

Jika hatimu bungkam, enggan berkata, besar kemungkinan inilah jawabannya:

“Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.”

(al-Maa’idah : 13).

 

Syaikh As-Sa’di rahimahullaah menjelaskan:

“Kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik, justru semakin menambah buruk keadaannya.”

(Taisir al-Kariim ar-Rahmaan: 225).

Sebaiknya kita mengajak hati untuk duduk bersama-sama, berkaca dari dosa dan maksiat yang selama ini terbina …

 

%d blogger menyukai ini: