Motivasi Menghadapi Masalah Hidup.

Motivasi terbaik itu adalah diri sendiri. Orang lain atau bahkan motivator hebat pun gak akan bisa mengubah hidup kita. Kalau kitanya emang gak mau berubah.

Kenapa sih ada masalah hidup? Saya juga gak tau. Masalahnya adalah masalah itu apa? Bisa jadi ini adalah masalah bagi si A, tapi bukan masalah bagi si B.

Masalah dengan ujian sama apa beda? Tau dah. Biasanya kalau ujian itu berasal dari pihak lain dengan tujuan agar kita naik kelas.

Allah menguji hambanya agar manusia naik kelas menjadi manusia super. Bukan menjadi superman apalagi menjadi supermi.

Bedakan ya antara ujian dan adzab. Ujian sifatnya sementara. Sedangkan kalau adzab itu relatif lama. Kita kena musibah, belum tentu itu ujian, bisa jadi itu adalah adzab.

Sehari hari gak pernah ibadah, gak pernah ingat Allah, selalu maksiat, begitu kena musibah nah itu adalah adzab bukan ujian.

Anak sekolah diuji karena setiap hari ikut kelas pelajaran di sekolah . Lha kalau gak pernah sekolah? Siapa yang mau menguji?

Sama ama manusia, lha setiap hari aja gak pernah ikut perintah Allah, begitu kena musibah, bilang ini adalah ujian. Heloo siapa yang menguji?

Mari kita chek, ketika kena musibah, bagaimana sih kita menjalani hidup sehari-hari? Apa ikut perintah Allah apa selalu melanggar perintah Allah? Di posisi mana kita?

Saya akan postingkan cerita motivasi Dalam menghadapi musibah. Cerita ini udah menyebar kemana-mana, bahkan denger-denger udah sampai ke Planet Pluto. :V

Menghadapi Masalah dengan kacamata Wortel, Telur, dan Kopi. Semoga cerita ini bisa menginspirasi teman-teman dalam menghadapi masalah hidup.

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur.

Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih.

Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir.

Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.

Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah.

Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya,

“Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.

Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak.

Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya.

Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi.

Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya,

“Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya.

“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya?

Apakah kamu wortel, telur atau kopi?

”Bagaimana dengan kamu?

Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis. Namun, setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi?

Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.

Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

Baca juga Cara Menghilangkan Rasa Emosi yang Berlebihan