Penyebab Hati Mati Menurut Islam

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Saya lebih suka pakai istilah Qalbu daripada Hati. Kenapa menurut islam? Ya karena agama saya islam. Gak mungkin saya “nyontek” dari agama lain. Karena selain tidak ngerti dengan ajaran agama lain, saya meyakini bahwa islam adalah benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras.

Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah.

Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Baca juga Dzikir Adalah Obat Hati dan Penghilang Stress

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dzikir.

Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat.

Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah.

Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir.

Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa.

Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)

Baca juga Manfaat Dzikir Bagi Manusia Menurut Ibnu Al-Qayyim

Penyebab Hati Mati Menurut Islam (Sumber Annida-online)

Dalam buku Nashiah Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani disebutkan bahwa ada 10 faktor yang menyebabkan hati menjadi mati menurut Ibrahim bin Adham adalah:

>> Kalian suka membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mengamalkannya. Coba kita cek diri kita, apakah masih sekadar baca qur’an di bibir saja atau sudah mempraktikkan ajarannya?

>> Kalian mengetahui iblis itu musuh, tetapi tetap mengikuti perintahnya. Iblis menggoda dengan harta, tahta, wanita, kita terperangkap pada godaan iblis ini dan memakan umpannya.

>> Kalian menyatakan cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi meninggalkan sunnahnya.

Padahal sunah Rasulullah tidak semuanya sulit, bahkan banyak yang amat sederhana Sob, misal tersenyum ketika bertemu saudara, menyingkirkan kesulitan orang lain, tapi sudahkah kita lakukan?

>> Kalian menyatakan cinta syurga, tetapi tidak mau mengamalkan amalan ahli syurga

>> Kalian mengakui takut siksa neraka, tetapi tetap saja berbuat dosa

>> Kalian meyakini bahwa kematian itu haq, tetapi tidak pernah menyiapkan bekal untuk menghadapinya

>> Kalian meyakini bahwa kematian itu haq, tetapi tidak pernah menyiapkan bekal untuk menghadapinya

>> Kalian selalu memperhatikan aib orang lain, tetapi tidak mau memperhatikan aib sendiri

>> Kalian senang makan rizki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya

>> Kalian sering mengubur orang mati. Tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya

Astaghfirullah, semoga kita nggak menjadi orang-orang yang tertipu ya Sob, kelihatannya biasa melakukan kebaikan, tapi ternyata tidak meresap ke hati, ternyata belum membuat kita takut dan tunduk pada Allah dengan sebenar-benarnya, itulah sebabnya hati kita bisa mati lambat laun.

Na’udzubillah min dzalik.Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..

 

 

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe
%d blogger menyukai ini: