Sinopsis Novel Bumi Cinta-Part 2

“bagi orang yang cermat dan paham filsafat. Sebenarnya Viktor Morasov hanyalah burung beo.

Dia hanya ikut-ikutan saja. Apa yang dikatakannya sebenarnya adalah apa yang pernah dikatakan oleh Nietzshe, dia adalah seorang pemikir dari Jerman yang mengatakan Tuhan telah mati.

Nietzshe adalah seorang atheis. Dia mengingkari adanya Tuhan.

“Batas di mana manusia ingin mencapainya ternyata selalu mundur sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Suatu masalah dapat dicapai oleh ilmu pengetahuan. Suatu masalah dapat ditangani, masalah lain muncul.

Demikianlah! Maka selamanya manusia tidak kan dapat mencapai batas itu. Ilmu pengetahuan tidak dapat mendeteksi kapan persisnya gempa terjadi.

Kalaupun bisa mendeteksi, tetap saja ilmu pengetahuan tidak dapat menolak terjadinya gempa.

Demikian pula untuk selamanya manusia tidak akan melepaskan diri dari ketuaan dan kematian. Dialah Tuhan! Dialah Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

”Jadi hanya orang gila yang mengatakan Tuhan telah mati atau telah sirna. Sebagaimana sejarah mencatat Nietzsche pada akhirnya gila. Dia mati mengenaskan dalam keadaan gila!

Tak ada yang membantah kenyataan ini. Maka agar kalian tidak gila, kalian jangan mengikuti Nietzsche”

“Dr. Gary Miller, Ilmuwan terkenal ini mengatakan, bahwa sebelum Al Qur’an diturunkan dan Muhammad SAW di angkat menjadi rasul, seorang fisuf yunani democritus telah menyampaikan pendapatnya tentang atom.

Democritus dan para filsuf berkata, “materi terdiri atas partikel-partikel yang sangat kecil yang tidak terlihat dan tidak bisa dibagi, partikel-partikel itu disebut atom”

itulah definisi atom secara ilmiah yang diketahui manusia selama ribuan tahun.

“Orang arab telah mengetahui definisi ini jauh sebelum islam datang. Buktinya, kata ‘dzarrah’ dan atom’ menurut orang arab adalah bagian terkecil yang diketahui oleh manusia.

Namun, sekarang ini, ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa atom yang dianggap bagian terkecil dari materi ternyata masih bisa dibagi lagi.

Hal ini dianggap sebagai penemuan baru dalam science modern. Yang sangat mengherankan.

Al Qur’an yang diturunkan empat belas abad yang lalu ternyata telah lebih dulu memberikan informasi ilmiah ini.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an.
“kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca ayat dari al qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu perkerjaan melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi maupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak ada yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (lahul mafudz)”

”Tidak diragukan lagi penjelasan bahwa ada yang lebih kecil dari atom seperti yang ada di atas adalah hal yang sama sekali tidak populer ketika Al Qur’an diturunkan. Yang diketahui manusia saat itu materi terkecil adalah atom, dan atom tidak bisa dibagi, artinya tidak ada yang lebih kecil dari atom. Dari manakah Al Qur’an bisa memberikan informasi ilmiah yang jauh melampaui apa yang ditemukan manusia saat itu. Tak lain dan tak bukan adalah dari Allah SWT. Ini membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah yang tidak lekang oleh zaman.”

Dr. Maurice Bucaille. Dia adalah seorang ahli bedah terkenal di Perancis. Seperti dimaklumi bersama, salah satu negara yang memiliki perhatian besar kepada peninggalan-peninggalan purbakala adalah perancis.

Saat Presiden Francois Mitterand terpilih menjadi presiden Perancis tahun 1981, pemerintah perancis di penghujung tahun delapan puluhan meminta kepada pemerintah Mesir untuk melakukan penelitian terhadap mumi fir’aun di Perancis, untuk itu dipindahkan untuk sementara tubuh mumi itu ke perancis.

“Setelah melakukan penelitian dengan seksama, mereka pun menemukan jawaban ilmiah, kenapa fir’aun mati. Sisa-sisa garam yang lengket pada tubuhnya, juga sebagian ada di tenggorokan dan alat pencernaan merupakan bukti kuat bahwa fir’aun mati dilaut. Ketika orang-orang saat itu menemukan jasad fir’aun di laut, mereka langsung memumikannya agar awet. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan besar dibenak Dr.Maurice Bucaille adalah bagaimana jasad fir’aun tetap bisa utuh ketika di temukan di laut?”

”Saat itu ada seorang anggota tim yang ia pimpin berbisik padanya, “sebenarnya umat islam sudah membicarakan mengenai tenggelamnya jasad ini dan keutuhan tubuhnya setelah tenggelam

Namun, Dr. Maurice Bucaille saat itu mengacuhkan informasi itu dan menggapnya sebagai angin lalu. Dia meyakini bahwa penemuan baru mengenai apa yang terjadi pada mumi fir’aun itu tidak akan terjadi kecuali melalui serangkaian penelitian dengan menggunakan metode dan alat pendukung yang canggih.

Dan dokter ahli bedah lain yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam penelitian mumi itu mengatakan ‘benar, sungguh, Al Qur’an, kitab suci yang dipercayai kaum muslim itu relah menceritakan bagaimana fir’aun mati tenggelam dan memastikan keutuhan tubuhnya setelah tenggelam

Dr. Maurice Bucaille tercengang tidak percaya, dia merasa itu hal yang aneh. Bagaimana bisa terjadi. Mumi itu belum ditemukan hingga tahun 1989 M atau baru ditemukan dua ratus tahun yang lalu, sementara kitab Al Qur’an sudah ada sejak empat ratus tahun silam.

Bagaimana kitab suci Al Qur’an bisa memberikan informasi itu, padahal seluruh manusia termasuk juga bangsa arab tidak mengetahui apapun tentang mesir kuno.

Manusia baru tahu setelah jasad mumi itu ditemukan bersama peninggalan mesir lainnya.”

“Ditengah acara, seorang ilmuwan muslim membuka hati Dr. Mauruce Bucaille yang sedang mencari hakikat Al Qur’an. Ilmuwan muslim itu membacakan ayat suci Al Qur’an

“maka pada hari itu kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajarn bagi orang orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lalai dari tanda tanda kekuasaan kamu”.

Ayat suci itu membuat tubuh Dr. Murice Bucaille begetar seketika ia berkata dengan suara lantang “aku masuk islam dan aku beriman pada Al Qur’an ini”

Ia sangat yakin bahwa al quran benar-benar firman Allah, Tuhan yang maha kuasa dan maha mengetahui segala sesuatu. Tuhan yang menjadi sumber ilmu pengetahuan.”

“Dr. Keith L. Moore, seorang ilmuwan ahli embriologi terkenal dari amerika. Suatu hari ia membaca artikel bahwa Al Qur’an menjelaskan ihwal pertumbuhan janin dari masa pembuahan sampai lahir.

Saat itu Dr. Keith L. Moore hampir tidak percaya. Sebab menurutnya pengetahuan embriologi baru diketahui oleh manusia belakangani ini, terutama sejak diketemukannya mikroskop dan piranti piranti canggih ilmu kedokteran modern lainnya.”

“Untuk membuktikan kebenaran tulisan itu Dr. Keith L. Moore lalu membaca dan mempelajari Al Qur’an dan akhirnya mau tidak mau ia harus terkagum-kagum kepada Al Qur’an.

Ternyata benar Al Qur’an memuat ayat-ayat yang menjelaskan tentang embriologi secara lengkap dan tuntas.

Dr. Keith L. Moore mengatakan apa yang tercantum dalam Al Qur’an itu sungguh tidak mungkin terjangkau oleh pengetahuan medis pada abad ke 17 masehi, ketika Nabi Muhammad menyebarkan islam. Ini suatu mukjizat.”

“Berdasarkan temuan ilmiah itulah Dr. Keith L. Moore kemudian masuk islam dan menjadi seorang muslim yang saleh.”

“Pengetahuan tentang penahapan embrio manusia dan bentuknya setiap tahap tidak terbayangkan hingga abad ke 20 ketika Streeter (1941) dan O’Rahilly (1972) mengembangkan sistem penahapan yang pertama kali.

Apalagi tentang tiga lipat kegelapan yang nyata ternyata maksudnya adalah tiga lapisan yaitu dalam lapisan dinding perut, dinding rahim dan selaput janin.”

Al Qur’an menjelaskan “kemudian kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan alaqah (sesuatu yang melekat) lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik”

Jika kita cermati lebih dalam, sebenarnya alaqah dalam pengertian etimologis yang bisa diterjemahkan dengan segumpal darah juga bermakna kepada penghisap darah, yaitu lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-27 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung dikulit, embrio itu seperti menghisap darah dari dinding uretus, karena memang demikianlah sesungguuhnya terjadi, embtrio itu makan melalui aliran darah.

Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makannya adalah sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.

Ajaibnya embrio janin dalam tahap itu jika diperbesar dengan mikrsokop bentuknya benar² seperti lintah.”

“Bisakah kita bayangkan bahwa saat itu Muhammad sudah memiliki pengetahuan sedemikan dasyat tentang bentuk janin yang seperti lintah, lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal saat itu belum ditemukan mikroskop dan lensa. Kita tidak akan bisa membayangkannya.

Karenanya pengetahuan embrio manusia yang mungkin mirip lintah, yang dijelaskan oleh Al Qur’an tidak mungkin bersumber dari akal manusia, jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan.

Itu wahyu dari Allah, tuhan seru sekalian yang maha mengetahuai segala sesuatu.”

 

Artikel Terkait:
Sinopsis Novel Bumi Cinta-pART 1