AHLUL BAIT bag 3

” Hendaklah kalian mencintai Allah karena Dia memelihara
kalian dengan ni’mat-ni’matNya. Dan cintailah aku de-
mi cintamu kepada Allah. Dan cintailah akhli rumahku
demi cintamu kepadaku. ”
(H.R. At Tirmidzi, Al Hakim dari ibnu Abbas)

Cinta kepada ahlul bait bukanlah kepada ahlul bait itu sendiri sebagai pribadi yang lepas dari karakter aqidah dien ini. Dia adalah cinta atas sebuah konsekuensi, cinta yang muncul sebagai akibat syari’. Cinta yang berakar pada syahadah, menguat pada tha’at, dan bermuara pada amal. Cinta yang realistis, cinta yang sarat pembelaan, cinta yang muncul sebagai refleksi cinta kepada Allah dan RasulNya.

Maka cinta kepada ahlul bait adalah cinta yang selaras dan berharmoni dengan endapan rasa cinta mereka kepada Allah. Cinta kepada ahlul bait adalah salah satu dari sekian bukti cinta kepada Rasulullah, dan seorang Muslim yang telah berikrar untuk beruswah kepada Rasulullah mestilah mengadakan pembuktian cinta. Bila tidak maka kata cintanya hanyalah kehampaan, absurd dan tanpa makna.

Dalam garis ini maka setiap bukti cinta tak pernah akan memunculkan kontradiksi. Karena cinta adalah harmoni, tak ada cinta yang berlebih dan mubadzir. Bahkan bagi seorang Muslim urutan cinta adalah suatu kejelasan; Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman. Ahlul bait adalah orang-orang yang beriman, yang merupakan kerabat Rasulullah SAW. Cinta dalam aqidah dien ini tak akan pernah bertentangan, karena garis syari’ hanya satu, cinta kepada Allah. Dan semuanya diturunkan dari rasa cinta ini.

Maka mestinya rasa cinta kepada ahlul bait tak akan pernah melebihi rasa cinta kepada Rasulullah SAW, dan rasa cinta kepada Muhammad bin abdullah tak akan pernah melebihi rasa cinta kepada Allah SWT, Rabb, Khalik dan Malik manusia. Juga rasa cinta kepada ahlul bait itu tidak akan pernah berkontradiksi dengan rasa cinta kepada kaum beriman. Karena wala (loyalitas) kaum beriman hanyalah kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Dan juga karena hakekat cinta itu sendiri yang berpilar tauhid.

Inilah cinta umat Muhammad SAW, cinta kepada ahlul bait Rasulnya, karena rasa cinta kepadanya. Dan mereka cinta kepada Muhammad SAW, karena cinta mereka sangat dan sangat bersangatan kepada Tuhan-nya.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Wassalam,
abu zahra

Baca Juga:
AHLUL BAIT
AHLUL BAIT bag 2

AHLUL BAIT

Hendaklah kalian mencintai Allah karena Dia memelihara kalian dengan nikmat-nikmatNya. Dan cintailah aku demi cintamu kepada Allah. Dan cintailah akhli rumahku demi cintamu kepadaku. (H.R. At Tirmidzi, Al Hakim dari ibnu abbas)

Ketika serial Asy-syura tentang ahlul bait ditayangkan, maka hati-hati yang cinta akan ahlul bait merasakan sejarah dirinya berulang di depan kaca bisu. Mereka terkesima, berdegup, sedih, haru serta muncul perasaan duka mendalam. Karena ahlul bait adalah keluarga Rasulullah Sholallahu Allaihi Wassalam, keluarga Nabi kita, junjungan yang kita cintai, pembawa risalah yang karenanya kita menerima al-islam. Ahlul bait adalah cermin kita yang izzah (kemuliaan) mereka adalah izzah kaum Muslimin, izzah kita semua, Yang al qur’an mulia menyebut dan mengabdikan mereka.
“Ya ahlul bait, Allah akan membersihkan kamu sebersih- bersihnya”

Betapa hati kita terasa teriris, manusia-manusia mulia yang datang ke kuffah untuk suatu kemuliaan Islam malah
mendapat suatu penghinaan bahkan pembantaian biadab dari orang-orang yang mengaku mengimani Rasulullah Muhammad. Hampir-hampir seperti mimpi ada manusia yang penuh kontradiksi semacam itu; berkata mencintai Rasulullah namun menghinakan cucu-cucu dan ahlul baitnya. Sepertinya mustahil muncul manusia yang bersalawat dan menyampaikan salam kepada junjungan kita Khotamul anbiya wal mursalin, namun dengan teganya menyusahkan para akhli keluarga beliau. Bandingkan dengan sahabat awallun Muslimin, yang jangankan akan menyusahkan ahlul bait, menukar nyawa
sendiri agar rasulullah tak tertusuk duri sekalipun akan mereka lakukan.

Bahkan para pembesar quraish sampai frustrasi menghadapi manusia-manusia baru, manusia-manusia aneh, yang demikian cinta dan tunduk patuh kepada Rasulullah lebih dari rasa cinta dan tunduk patuh mereka pada bapak-bapak atau ibu- ibu mereka. Mereka bertabarruk, berebut untuk menerima makanan sisa dari Rasulullah, berebut untuk mendapat air
bekas wudhu Rasulullah, saling berlomba untuk memberi kebaikan kepada belahan hati mereka.

Para sahabat awallun Muslimin menyebut putri Rasulullah, sebagai az zahra, fatimah az zahra. Zahra adalah bunga.
Bunga islam, bunga dari segi akhlaq, kehalusan dan segalanya. Para sahabat mencintai fatimah az zahra lebih daripada mereka mencintai anak-anak mereka sendiri. Mengapa ? Karena fatimah az zahra adalah putri junjungan mereka, putri seseorang yang telah menyelamatkan mereka dunia dan akhirat, putri Rasulullah yang karena perantaraan beliau azab neraka yang sangat dahsyat ditukar dengan syurga yang penuh dengan kenikmatan.

Maka kita menjadi sepakat hanya manusia-manusia biadab saja yang berakhlaq seburuk itu kepada ahlul bait di kuffah. Adalah mustahil manusia yang berkhudwah, beruswah kepada tauhidul uswah, Rasulullah SAW akan bersikap tak sopan kepada ahlul baitnya. Dimana al hub (cinta)? Dimana tabarruk?

Inilah salah satu fitnatul qubra (fitnah besar) bagi dien Allah, munculnya sekelompok manusia yang mencoreng-moreng izzatul Islam, mencoreng islam dengan alasan islam, menghancurkan islam dengan senjata islam. Mereka jahil, tapi mereka tidak sadar.

Insya Allah kita dimasukkan Allah dalam kelompok manusia yang cinta akan ahlul bait lebih dari rasa cinta kita kepada keluarga kita sendiri, amiin.

wassalam,
abu zahra

error: Heloo gak bisa di copas keles hehe