Tahap-Tahap Menuju Pernikahan Dalam Islam.

Islam telah memberikan konsep yang jelas dan lengkap tentang cara pernikahan yang berlandaskan al Qur’an dan as Sunnah yang shohih dengan pemahaman para salafush sholih, sehingga kita tidak membutuhkan segala aturan dan adat istiadat serta kemubadziran dalam pelaksanaan pernikahan, diantara tata cara yang Islami tersebut adalah :

Sebelumnya anda harus punya calon dulu ya, dan ingat calon ini bukan proses dari patjaran, tapi dari proses taaruf.

Baca juga Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Islam.

  1. Khitbah (peminangan).

Seorang muslim yang ingin menikahi seorang muslimah, hendaklah dia meminang terlebih dahulu karena dimungkinkan wanita tersebut sudah dipinang orang lain.

Dalam hadist shohih riwayat Bukhori Muslim, Nabi SAW melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang orang lain sampai yang meminangnya itu meninggalkan atau mengijinkannya.

Jangan ujug-ujug datang ke rumahnya lalu melamar ya, mentang-mentang prinsipnya lebih cepat lebih baik. Pastikan mbaknya free atau bebas dari pinangan laki-laki lain.

Disunnahkan bagi orang yang meminang untuk melihat wajah dan yang lainnya dari wanita yang dipinang sehingga dapat menguatkannya untuk menikahi wanita tersebut.

Al Mughiroh bin Syu’bah Radhiallhu ‘Anhu penah meminang seorang wanita, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepadanya :

“Lihatlah wanita tersebut karena hal itu dapat lebih melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” (HR. at Tirmidzi No 1087, an Nasai (VI/69-70).

Bagi para wali yang Allah ta’ala amanahkan anak-anak wanita padanya, Ketika datang laki-laki sholih meminang anak wanitanya, maka hendaklah dia menerima lamaran laki-laki sholih tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar.” HR. atTirmidzi 1085.

Apabila seorang laki-laki telah melihat (nadzhor) wanita yang dipinang, dan wanitanyapun sudah melihat laki-laki dan mereka telah bertekad bulat untuk menikah, maka hendaklah mereka berdua melakukan sholat istikhoroh dan berdoa sesudah sholat agar Allah ta’ala memberi taufiq dan kecocokan Serta memohon agar diberikan pilihan yang baik bagi mereka.

  1. Aqad nikah.

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya :

– Rasa suka dan saling mencintai dari kedua calon mempelai.

– Izin dari wali.

– Saksi-saksi ( minimal 2 saksi yang adil )

– Mahar

– Ijab Qabul.

– Khutbah nikah.

  1. Walimah.

Walimatul ‘urus (pesta pernikahan) hukumnya wajib dan diselenggarakan Sesederhana mungkin. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing. ” (HR. Bukhori Muslim dan yang lainnya dari Anas bin Malik Radhiallu ‘Anhu).

Bagi orang yang diundang, maka wajib baginya menghadiri walimah tersebut Selama didalamnya tidak ada maksiyat, bersabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Jika salah seorang diantara kalian diundang menghadiri acara walimah, maka datanglah!” (HR. Bukhori Muslim dan lainnya dari Ibnu ‘Umar Radhiallhu ‘Anhu).

Dan disunnahkan bagi yang menghadiri pernikahan untuk mendoakan bagi Kedua mempelai dengan doa berikut ini :

“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi pernikahanmu, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud no 2130 Tirmidzi no 1091, Ahmad II/381, Ibnu Majah no 1905 dan lainnya).

Walimah gak harus mewah, menghabiskan biaya ratusan juta, di gedung mewah ya. Yang penting tetangga sekitar tahu bahwa kita sedang ada hajatan menikah. Dengan begitu nanti ke belakangnya tidak ada fitnah dan bisik-bisik tetangga.

  1. Malam Pertama dan Adab Bersenggama.

Saat pertama kali pengantin pria menemui istrinya setelah aqad nikah, disunnahkan melakukan beberapa hal berikut ini :

Pertama : Suami memegang kepala si istri, lalu mendoakannya dengan doa berikut ini :

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻧﻲ ﺍﺳﺎﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ, ﻭﺍﻋﻮﺫﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭ ﺷﺮ ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ

Artinya :

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabi’at yang dia bawa, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan tabi’at yang dia bawa.” (HR. Abu Daud no 2160, Ibnu Majah no1918 dan al Hakim).

Kedua : Hendaklah dia sholat 2 raka’at bersama istrinya.

Syekh Al Bana dalam kitab Adaabuz Zifaaf fis sunnah al muthohharoh hal 94-97 mengatakan hal ini telah ada sandarannya dari para ulama salaf (shohabat dan tabi’in).

Ketiga : Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan.

Keempat : Berdoa sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli istrinya hendaklah membaca doa :

بسم الله ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺟﻨﺒﻨﺎ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭ ﺟﻨﺐ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﺎ ﺭﺯﻗﺘﻨﺎ

Artinya :

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah aku dari syetan dan jauhkanlah syetan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”

Rosululloh Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Maka apabila Allah ta’ala menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan yang dilakukan keduanya, niscaya syetan tidak membahayakannya selama-lamanya.” (HR. Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas).

Dari berbagai Sumber.

%d blogger menyukai ini: